Berita Metro

Saat Tambang Bicara Budaya: PT Vale Buktikan Hilirisasi Tak Hanya Soal Nikel, Tapi Juga Masa Depan Pengrajin

IMG 4226
Ketgam : Suasana Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas oleh PT Vale. Foto : Humas PT Vale

MAKASSAR. OKESULTRA.ID – Di tengah sorotan publik terhadap dampak industri pertambangan terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat, PT Vale Indonesia Tbk justru memilih menunjukkan wajah lain dari bisnis ekstraktif. Bukan melalui angka produksi nikel atau besaran investasi, melainkan lewat sebuah produk sederhana yang sarat makna budaya: anyaman teduhu.

Keikutsertaan PT Vale dalam ajang Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas pada rangkaian Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 di Makassar, 9–11 Juli 2026, menjadi pesan kuat bahwa keberhasilan industri tambang tidak semestinya hanya diukur dari tonase mineral yang diangkut dari perut bumi.

Di balik kemegahan pameran tersebut, tersimpan pertaruhan besar. PT Vale sedang membuktikan bahwa investasi sosial bukan sekadar kegiatan seremonial yang berhenti pada pembagian bantuan, melainkan proses panjang membangun kemandirian masyarakat melalui pelestarian budaya lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Pilihan perusahaan mengangkat anyaman teduhu sebagai ikon pemberdayaan masyarakat bukan tanpa alasan. Kerajinan tradisional yang lahir dari tangan-tangan perempuan Desa Nuha itu pernah berada di ambang kehilangan generasi penerus. Modernisasi perlahan menggeser minat anak muda untuk belajar menganyam, sementara para pengrajin senior semakin bertambah usia.

Di sinilah PT Vale mengambil posisi yang berbeda. Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), perusahaan tidak hanya mendampingi proses produksi, tetapi juga membangun regenerasi pengrajin secara sistematis. Anak-anak muda berusia 16 hingga 23 tahun mulai dipersiapkan menjadi pewaris keterampilan yang telah hidup sejak puluhan tahun silam.

Rakor HUT RI Bukan Sekadar Seremonial, Kapolsek Kolono Tekankan Perang Melawan Narkoba

Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, menegaskan bahwa filosofi perusahaan bukan sekadar menjalankan kewajiban sosial, melainkan memastikan masyarakat ikut tumbuh bersama perkembangan perusahaan.

“Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi dan tradisinya tetap lestari. Untuk itu, PT Vale memberikan pendampingan, mulai dari pengenalan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), manajemen usaha, hingga membuka akses pasar seluas-luasnya,” ujar Yusri.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan ekosistem usaha yang mampu bertahan setelah program selesai. Karena itu, PT Vale tidak berhenti pada pembinaan teknis, tetapi juga membuka akses pemasaran agar produk masyarakat benar-benar memiliki nilai jual.

Langkah tersebut terlihat nyata melalui pembinaan dua komunitas pengrajin. Komunitas Teduhu Desa Nuha yang beranggotakan 12 pengrajin mengolah pakis hutan menjadi berbagai produk bernilai tinggi, sementara Komunitas Sampa Konao Desa Matano yang dihuni 10 pengrajin muda memanfaatkan pelepah aren sebagai bahan baku kerajinan modern.

Yang membuat program ini semakin menarik adalah keberanian PT Vale memasukkan produk-produk tersebut ke dalam rantai bisnis perusahaan. Anyaman teduhu kini menjadi suvenir resmi bagi tamu korporasi, sekaligus dipasarkan melalui jaringan hotel dan galeri. Artinya, hasil karya masyarakat tidak lagi bergantung pada bazar sesaat, tetapi memperoleh pasar yang lebih berkelanjutan.

Viral! Dugaan Perselingkuhan Oknum Polisi dan Pegawai Kejaksaan Baubau Jadi Sorotan

Bagi para pengrajin, perubahan tersebut membawa harapan baru. Tradisi yang sebelumnya hanya diwariskan secara turun-temurun dalam lingkup keluarga kini mulai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan.

Pengrajin Teduhu asal Desa Nuha, Yulianti, mengaku pembinaan PT Vale telah mengubah wajah kerajinan teduhu. Produk yang dulunya sederhana kini berkembang menjadi berbagai karya kreatif dengan desain yang mengikuti kebutuhan pasar.

“Bersama PT Vale, kami bisa melakukan inovasi produk mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligus mengajak anak-anak muda di desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah. Kesempatan mengenalkan teduhu di ajang Dekranas ini sangat berharga untuk memperluas pasar dan membuka peluang kerja sama baru,” ungkap Yulianti.

Keberhasilan tersebut rupanya tidak luput dari perhatian Dewan Kerajinan Nasional. Booth PT Vale menjadi salah satu titik kunjungan Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, bersama Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia. Mereka secara khusus mengapresiasi semangat regenerasi pengrajin muda yang terus tumbuh di wilayah binaan perusahaan.

Sri Suparni Bahlil menilai pembinaan yang dilakukan PT Vale telah menghasilkan dampak nyata terhadap munculnya generasi baru pengrajin yang tidak hanya mampu mempertahankan tradisi, tetapi juga mengembangkan inovasi produk agar lebih kompetitif.

Bupati Bombana Lantik Pengurus AGPAII Periode 2026–2031, Dorong Guru PAI Perkuat Karakter Generasi Bangsa

“Kami tentu sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan. Berkat pembinaan selama ini oleh perusahaan mitra ESDM seperti PT Vale, banyak pengrajin muda yang penuh semangat dan sudah mengikuti berbagai coaching,” ujarnya.

Apresiasi tersebut menjadi pengakuan bahwa praktik pertambangan modern tidak lagi dapat dipisahkan dari tanggung jawab membangun masyarakat di sekitar wilayah operasi. Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap aspek Environmental, Social and Governance (ESG), keberhasilan membina UMKM berbasis budaya menjadi indikator penting keberlanjutan sebuah perusahaan.

Namun tantangan sesungguhnya justru berada setelah pameran usai. Konsistensi pembinaan, perluasan pasar, perlindungan HKI, hingga kemampuan pengrajin bertahan menghadapi persaingan produk massal akan menjadi ukuran apakah investasi sosial ini benar-benar menghasilkan perubahan jangka panjang atau hanya menjadi cerita sukses di atas panggung pameran.

Melalui kolaborasi bersama Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Dekranas, PT Vale mengirimkan pesan yang cukup jelas: masa depan pertambangan berkelanjutan bukan hanya soal menjaga cadangan mineral, tetapi juga memastikan budaya, keterampilan, dan ekonomi masyarakat lokal tetap hidup. Jika tambang mengambil kekayaan dari perut bumi, maka investasi sosial seperti inilah yang seharusnya mengembalikan nilai kepada masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan industri tersebut.

Reporter : duL