Berita Bau Bau Daerah

Bapas Baubau Gelar Roadshow BERAKSI Cegah Kekerasan di Sekolah Sebelum Jadi Bencana Hukum

42fc48f0 5452 4097 8fa8 e6a17d615296
Ketgam : Kepala Bapas Baubau, Mustar Taro (yang lagi bicara), saat Road Show BERAKSI. Foto : Humas Bapas

BAUBAU. OKESULTRA.ID –  Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Baubau tak mau diam melihat maraknya kasus kekerasan dan perundungan yang kini mulai menjalar tajam ke lingkungan pendidikan.

Langkah nyata segera digelar resmi pada Senin (13/7/2026), lembaga ini meluncurkan Road Show BERAKSI singkatan dari Bersama cEgah kekeRasan Anak di seKolah dengan edukasi sebagai tulang punggung Program Sekolah Binaan Pemasyarakatan.

Bukan sekadar seremonial, hari pertama pelaksanaan langsung menyasar tiga institusi pendidikan yang paling banyak menerima siswa baru tahun ini, SMK Negeri 3 Baubau, SMA Negeri 3 Baubau, dan SMA Negeri 5 Baubau. Total 570 siswa baru dikerahkan untuk menerima materi edukasi yang dinilai terlambat disampaikan selama ini.

Momen ini sengaja dipilih bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS/MAPENALING). Bagi Bapas Baubau, ini adalah waktu paling krusial: sebelum ikatan pertemanan terbentuk, sebelum hierarki antar angkatan mengakar, dan sebelum kebiasaan buruk diwariskan dari kakak kelas ke adik kelas.

Kepala Bapas Baubau, Mustar Taro, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar tugas rutin lembaga, melainkan upaya darurat menutup celah perlindungan anak yang selama ini sering terabaikan.

PKK Jadi Ujung Tombak Negara, Mendagri Minta Bupati dan Gubernur Jangan Tutup Keran Anggaran

“Kami tidak datang ke sini hanya untuk berceramah. Kami datang untuk membuka mata: setiap pukulan, setiap ejekan, setiap ancaman yang dianggap ‘biasa’ di sekolah, adalah benih yang kelak bisa tumbuh menjadi tindak pidana. Kami tidak ingin lima atau sepuluh tahun lagi, wajah-wajah ceria yang duduk di sini hari ini, kami temui di ruang sidang atau di balik jeruji besi,” tegas Mustar saat membuka acara di SMK Negeri 3 Baubau.

bd00c9a1 7cfd 4dc3 8e6f d8b238fba8c5 1

Para Pembimbing Kemasyarakatan yang ditugaskan tak hanya menyampaikan teori. Materi disusun secara interaktif, mengupas satu per satu bentuk kekerasan yang sering disembunyikan: mulai dari perundungan fisik, kekerasan verbal, pengucilan sosial, hingga perundungan berbasis media sosial yang kini makin marak.

Poin yang paling digigit adalah penjelasan soal dampak dua arah. Banyak siswa selama ini berpikir bahwa hanya korban yang menderita. Padahal, pelaku pun menanggung konsekuensi seumur hidup: catatan kriminal, putusnya masa depan, hingga beban psikologis karena menyadari telah merusak nyawa orang lain.

“Kami temukan banyak kasus anak yang berhadapan dengan hukum berawal dari hal sepele di sekolah. Mulai dari dorong-dorongan, berlanjut ke pukulan, berakhir dengan luka berat. Saat itu baru mereka sadar: apa yang dilakukan selama ini salah besar. Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat,” ungkap salah satu Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Baubau dalam sesi diskusi.

PT Vale Dorong UMKM Naik Kelas, Anyaman Luwu Timur Tembus Panggung Nasional

Pesan yang disampaikan juga tegas: budaya “senioritas” yang dipakai untuk menindas, kebiasaan menyamaratakan kekerasan sebagai “pembinaan”, dan sikap diam saat melihat teman disakiti, semuanya adalah bentuk keteledoran yang merugikan generasi sendiri.

Program BERAKSI sekaligus menjadi bukti nyata sinergi yang selama ini sering hanya dijanjikan antara lembaga pemasyarakatan dan dunia pendidikan. Bapas menyadari, pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih berarti daripada sekadar menghukum pelaku setelah kejahatan terjadi.

6810f792 92cd 431a 9fb9 dade75ceba6a 1

“Kami tidak bisa bekerja sendirian. Polisi menangkap, pengadilan menghukum, kami membina. Tapi jika sekolah dan keluarga masih membiarkan kekerasan tumbuh di lingkungan terdekat, jumlah anak yang masuk ke sistem hukum tak akan pernah berkurang,” tambah Mustar.

Antusiasme siswa dan guru menjadi bukti bahwa materi ini memang sangat dinantikan. Ruangan yang tadinya gaduh berubah hening saat kasus-kasus nyata dibacakan. Tangan-tangan yang diangkat saat sesi tanya jawab menunjukkan bahwa selama ini banyak yang bingung, takut, atau bahkan tidak tahu harus berbuat apa saat menghadapi kekerasan.

Quick Wins Presisi, Polsek Kolono Gerak Cepat Cegah Sengketa Tanah Berujung Konflik Sosial

Salah satu siswi SMA Negeri 5 Baubau mengaku selama ini sering melihat teman sekelas diolok-olok namun tak berani melapor. “Kami takut disebut pengadu, takut nanti kami yang jadi sasaran. Sekarang kami tahu, diam saja sama saja membantu perundung,” ujarnya dengan suara bergetar.

Road Show BERAKSI tidak berhenti di sini. Kegiatan ini akan berlanjut hingga 16 Juli 2026, dengan target menyasar seluruh SMA dan SMK yang ada di wilayah Kota Baubau.

Bapas Baubau menegaskan: ini bukan program satu kali jalan. Kolaborasi akan terus diperkuat, mekanisme pelaporan aman akan dibuka, dan sosialisasi akan berulang sampai keyakinan bahwa “sekolah adalah rumah kedua yang aman” benar-benar tertanam di setiap hati siswa.

“Masa depan kota Baubau ada di tangan anak-anak ini. Jangan biarkan masa depan itu hancur hanya karena kita terlambat mengajarkan satu hal sederhana: saling menghargai,” pungkas Mustar Taro.

Reporter : duL