Berita Nasional News

PT Vale Catat Laba Bersih US$43,6 Juta di Q1 2026, Naik Signifikan

IMG 3223
Ketgam : Area operasional PT Vale di Blok Pomalaa. Foto : dok. PT Vale

JAKARTA, OKESULTRA.ID – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat kinerja keuangan yang solid pada triwulan pertama 2026 (Q1 2026), meskipun volume produksi nikel matte mengalami penurunan yang telah direncanakan sebelumnya.

Berdasarkan siaran pers perseroan tertanggal 29 April 2026 yang dipublikasikan kepada Bursa Efek Indonesia, laba bersih INCO tercatat sebesar US$43,6 juta atau sekitar Rp757,3 miliar (kurs tengah BI Rp17.378 per dolar AS per 4 Mei 2026). Angka ini melonjak 85 persen secara triwulanan (quarter-on-quarter/QoQ) dibandingkan US$23,6 juta pada Q4 2025.

Selain itu, EBITDA perseroan juga meningkat 29 persen QoQ menjadi US$80,1 juta atau sekitar Rp1,39 triliun. Kinerja ini mencerminkan keberhasilan strategi efisiensi biaya dan dukungan kenaikan harga jual di tengah penurunan volume produksi.

“Peningkatan laba dan EBITDA menunjukkan disiplin biaya yang kuat serta kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan harga jual,” demikian disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya.

Produksi Turun Sesuai Rencana

Musrenbang Sultra 2026, ASR Dorong Pembangunan Terintegrasi

Produksi nikel matte INCO pada Q1 2026 tercatat sebesar 13.620 metrik ton, turun dibandingkan 17.052 ton pada Q4 2025 dan 17.027 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Manajemen menjelaskan bahwa penurunan tersebut merupakan bagian dari strategi operasional, terutama terkait pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester pertama 2026 serta dampak dari persetujuan RKAB 2026.

Meski demikian, harga realisasi rata-rata nikel matte mengalami kenaikan 15 persen QoQ menjadi US$14.213 per ton, dari sebelumnya US$12.308 per ton. Kondisi ini mendorong total pendapatan perseroan mencapai US$252,7 juta atau sekitar Rp4,39 triliun.

“Tahun 2026 menjadi tahun penuh pertama penerapan payability 82 persen untuk nikel matte, yang diharapkan memberikan visibilitas margin yang lebih baik,” lanjut manajemen.

Biaya Produksi Tetap Kompetitif

Dirlantas Polda Sultra Tekankan Profesionalisme di Tengah Agenda Internasional Kendari

Dari sisi biaya, cash cost per unit nikel matte tercatat sebesar US$10.382 per ton, sedikit meningkat dibandingkan US$9.573 per ton pada Q4 2025 akibat tekanan harga komoditas input.

Sementara itu, biaya tunai untuk segmen bijih nikel relatif stabil, yakni Blok Bahodopi sebesar US$21 per ton dan Blok Pomalaa sebesar US$13 per ton, termasuk komponen royalti dan logistik.

Manajemen menilai, efisiensi biaya masih akan terus ditingkatkan seiring peningkatan volume penjualan, khususnya dari Blok Pomalaa.

Tahun Transformasi: Tiga Blok Tambang Beroperasi

Tahun 2026 menjadi tonggak penting bagi INCO karena untuk pertama kalinya perseroan mengoperasikan tiga blok tambang secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Gerak Cepat PT Vale di Pomalaa: Dari Bantuan Sembako hingga Pemulihan Pascabencana

Langkah ini melanjutkan kinerja positif tahun 2025, di mana INCO mencatat pendapatan sebesar US$990 juta dan laba bersih US$76,1 juta, masing-masing tumbuh 4 persen dan 32 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Diversifikasi usaha melalui penjualan bijih nikel saprolit dari Blok Bahodopi yang mencapai 2,31 juta wet metric ton pada 2025 menjadi salah satu penopang utama kinerja tersebut.

Penjualan Perdana Limonit dan Proyek HPAL

Pada awal 2026, INCO juga mencatat tonggak baru melalui penjualan perdana bijih nikel limonit dari Blok Pomalaa. Sebelumnya, blok ini masih dalam tahap uji coba pada 2025.

Seiring dengan itu, proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa terus berjalan dengan progres konstruksi sekitar 50 persen dan ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada kuartal III 2026.

Proyek ini memiliki kapasitas produksi hingga 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun dan menjadi bagian penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik nasional, bekerja sama dengan mitra strategis global.

SLL Pertama di Asia Tenggara

Dalam upaya memperkuat pembiayaan berkelanjutan, pada 23 April 2026 INCO menandatangani Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta atau sekitar Rp13,03 triliun.

Pendanaan ini menjadi SLL pertama di industri pertambangan Asia Tenggara dan akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek strategis di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.

Sepanjang Q1 2026, belanja modal perseroan tercatat sebesar US$139 juta, sementara posisi kas dan setara kas mencapai US$220,1 juta per 31 Maret 2026.

“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat posisi sebagai perusahaan tambang nikel berkelanjutan melalui investasi strategis dan penguatan prinsip ESG,” tutup manajemen.

Reporter : duL