Ketgam : Bupati Butur Saat Menerima Penghargaan capaian peringkat ke-5 dalam pelaksanaan aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tenggara. Foto : duL
KOLAKA, OKESULTRA.ID – Penghargaan yang diterima Bupati Buton Utara, Afiruddin Matara, S.H., M.H., atas capaian peringkat ke-5 dalam pelaksanaan aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tenggara bukan sekadar simbol keberhasilan administratif. Lebih dari itu, capaian ini merefleksikan dinamika kerja lintas sektor yang mulai menunjukkan hasil, meski tantangan struktural masih membayangi.
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Sulawesi Tenggara dalam forum Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan (Rakortekrenbang) dan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara yang digelar di Kolaka, Selasa (05/05/2026).
Dalam perspektif interpretatif, posisi lima besar ini menandai adanya pergeseran pendekatan pembangunan kesehatan di Buton Utara. Program konvergensi yang mengintegrasikan intervensi gizi, sanitasi, hingga edukasi keluarga tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan mulai terkoordinasi.
Bupati Buton Utara, Afiruddin Matara, mengakui bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga tenaga kesehatan di lapangan.
“Penghargaan ini adalah hasil kerja bersama. Kami menyadari bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan harus melalui kolaborasi lintas sektor yang konsisten,” ujar Afiruddin Matara.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa capaian peringkat ke-5 belum menjadi titik akhir. Justru, menurutnya, penghargaan ini harus menjadi pemicu untuk memperkuat strategi yang sudah berjalan.
“Kami tidak ingin berhenti pada penghargaan. Yang terpenting adalah bagaimana angka stunting benar-benar turun dan kualitas hidup masyarakat meningkat,” tegasnya.
Secara lebih luas, penghargaan ini juga mencerminkan arah kebijakan pembangunan di tingkat provinsi yang mulai menempatkan isu stunting sebagai prioritas utama. Dalam beberapa tahun terakhir, stunting tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan kesehatan, tetapi juga terkait erat dengan kemiskinan, pendidikan, dan akses layanan dasar.
Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa implementasi program konvergensi seringkali menghadapi hambatan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga belum meratanya kapasitas sumber daya manusia. Di sinilah pentingnya forum seperti Rakortekrenbang dan Musrenbang untuk memastikan bahwa perencanaan tidak berhenti pada dokumen, tetapi benar-benar terhubung dengan kebutuhan riil masyarakat.
Afiruddin juga menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dalam upaya penurunan stunting. Menurutnya, intervensi yang tepat sasaran hanya dapat dilakukan jika pemerintah memiliki data yang akurat dan terkini.
“Data menjadi kunci. Tanpa data yang valid, program yang kita jalankan berisiko tidak tepat sasaran,” tambahnya.
Dari sisi kebijakan, capaian Buton Utara sebagai peringkat ke-5 dapat dibaca sebagai sinyal positif, namun sekaligus pengingat bahwa kompetisi antar daerah dalam menekan angka stunting semakin ketat. Daerah yang mampu mempertahankan konsistensi program dan inovasi kebijakan akan lebih cepat mencapai target penurunan.
Penghargaan ini pun diharapkan tidak hanya menjadi catatan prestasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam mempercepat penurunan stunting di Sulawesi Tenggara.
“Kami optimistis, dengan sinergi yang terus diperkuat, upaya percepatan penurunan stunting di Buton Utara akan semakin efektif ke depan,” tutup Afiruddin Matara.
Reporter : duL


