Daerah Berita Kolaka

Tiga Poros Tamalaki Bersatu Dukung Investasi PT Vale IGP Pomalaa

IMG 4925
Ketgam : Tamalaki Bersatu Dukung Investasi PT Vale IGP Pomalaa. Foto : Humas PT. Vale

KOLAKA. OKESULTRA.ID – Dukungan terhadap keberlanjutan investasi PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) di Kabupaten Kolaka menguat setelah 26 organisasi adat Tamalaki dari tiga unsur besar—Gabungan Aliansi, Poros Tengah, dan Formakom—duduk satu meja dengan manajemen perusahaan, Selasa (11/8/2026).

Pertemuan tersebut bukan sekadar seremoni. Forum itu menjadi ruang dialog antara masyarakat adat dan perusahaan untuk membicarakan masa depan investasi sekaligus memastikan kehadiran industri pertambangan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di Wonua Mekongga.

Ketua Umum Tamalaki Wuta Kalosara Sultra, Mansiral Usman, menilai pertemuan tersebut memiliki arti penting karena berbagai unsur masyarakat adat Tamalaki dapat hadir dalam satu forum dengan semangat yang sama.

“Ini menjadi momentum penting bagi kami, karena tiga unsur utama masyarakat adat Tamalaki bisa hadir bersama dalam semangat yang sama. Kami berterima kasih dan menyatakan dukungan penuh terhadap investasi yang dilakukan PT Vale di Wonua Mekongga ini,” ujar Mansiral.

Menurut Mansiral, keberadaan investasi PT Vale dinilai telah membuka peluang kerja sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, hubungan antara perusahaan dan masyarakat lokal dinilai perlu terus dipelihara agar manfaat investasi tidak berhenti pada aktivitas produksi, tetapi turut dirasakan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

Desa Wisata Unsongi Diluncurkan, PT Vale Dorong Ekonomi Lokal Berbasis Lingkungan

Namun, dukungan tersebut juga dibarengi dengan sejumlah harapan. Masyarakat adat meminta agar perkembangan investasi di Kolaka berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat lokal, terutama dalam akses pekerjaan, pendidikan, dan program pemberdayaan.

Ketua Umum Forum Swadaya Masyarakat Daerah (Forsda), Jabir Lahukuwi, bahkan menegaskan pentingnya menjaga investasi yang sudah berjalan di Kabupaten Kolaka.

“Kami sesungguhnya ingin menyelamatkan investasi di Kabupaten Kolaka. Jika investasi ini gagal, yang rugi kita semua. Sumber daya alam kita sudah dibuka, jadi jangan sampai investasi itu ditutup,” tegas Jabir.

Pernyataan tersebut memperlihatkan satu pesan utama dari forum itu: investasi membutuhkan stabilitas sosial. Di sisi lain, dukungan masyarakat juga tidak terlepas dari tuntutan agar manfaat ekonomi yang lahir dari investasi benar-benar memiliki dampak terhadap masyarakat daerah.

Karena itu, sedikitnya tiga isu menjadi perhatian utama dalam dialog tersebut. Pertama, tenaga kerja lokal. Masyarakat adat berharap semakin banyak warga Kolaka mendapatkan kesempatan bekerja, termasuk melalui perusahaan mitra dan kontraktor yang terlibat dalam proyek PT Vale.

Kebun Cengkeh di Gunung Puubanga Terbakar, Puluhan hingga Ratusan Pohon Hangus

Harapan itu menjadi penting di tengah perkembangan proyek industri yang membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu. Masyarakat lokal didorong tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki kapasitas untuk masuk dan bersaing dalam rantai ekonomi investasi.

Kedua, sektor pendidikan. Perwakilan masyarakat adat mendorong adanya akses beasiswa dan dukungan peningkatan kualitas sumber daya manusia bagi generasi muda Kolaka.

Investasi, menurut mereka, tidak cukup hanya dilihat dari dampak ekonomi jangka pendek. Pendidikan dinilai menjadi instrumen penting untuk mempersiapkan generasi muda agar mampu mengisi kebutuhan tenaga profesional dan terampil ketika proyek berkembang.

Ketiga, penguatan program pengembangan masyarakat. Program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR diharapkan semakin diarahkan pada pemberdayaan masyarakat, peningkatan kapasitas organisasi adat, serta pengembangan ekonomi lokal.

Dengan demikian, hubungan perusahaan dan masyarakat tidak hanya bertumpu pada dukungan terhadap investasi, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang memberikan manfaat sosial-ekonomi secara berkelanjutan.

Gubernur ASR Resmikan GETRA, Sultra Maimo 2026 Dipacu Jadi Gerbang UMKM Tembus Pasar Dunia

Menanggapi aspirasi tersebut, Director of Project IGP Pomalaa PT Vale, Mohammad Rifai, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para perwakilan masyarakat adat Tamalaki. Ia menilai dukungan dan partisipasi masyarakat merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kondisi yang kondusif bagi keberlangsungan proyek.

Rifai juga menyambut positif masukan terkait tenaga kerja lokal, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat perlu terus dibangun secara terbuka dan saling menghormati.

“Kami menyambut baik aspirasi yang disampaikan dalam pertemuan ini. Masukan tersebut menjadi bagian penting dari dialog yang terus kami bangun bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan,” ujar Rifai.

Ia menambahkan, generasi muda Kolaka perlu mulai mempersiapkan diri dengan meningkatkan kompetensi agar dapat memanfaatkan peluang kerja yang terbuka sesuai kebutuhan dan tahapan proyek.

“Kami juga mendorong generasi muda Kolaka untuk terus mempersiapkan diri dan meningkatkan kompetensi, sehingga memiliki kesiapan untuk mengambil bagian dalam peluang yang terbuka sesuai kebutuhan dan tahapan proyek,” lanjutnya.

Pertemuan tersebut pada akhirnya mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama strategis: keberlanjutan investasi dan peningkatan manfaat bagi masyarakat lokal. Dukungan masyarakat menjadi modal sosial bagi perusahaan, sementara aspirasi mengenai tenaga kerja, pendidikan, dan pemberdayaan menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus dijawab melalui komunikasi dan program yang terukur.

Sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Vale menempatkan keberlanjutan, tata kelola, dan keterlibatan pemangku kepentingan sebagai bagian dari perjalanan investasinya. Di Kolaka, prinsip tersebut diuji melalui bagaimana perusahaan membangun hubungan dengan masyarakat yang hidup dan beraktivitas di sekitar wilayah investasi.

Forum bersama masyarakat adat Tamalaki tersebut menjadi sinyal bahwa keberlanjutan investasi tidak semata ditentukan oleh besarnya modal yang ditanamkan, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan membangun kepercayaan dengan masyarakat. Sebaliknya, dukungan masyarakat juga membutuhkan ruang dialog agar kepentingan lokal tetap masuk dalam pembahasan pembangunan.

Dengan tiga unsur utama Tamalaki yang hadir bersama dan menyampaikan dukungan sekaligus aspirasi, pertemuan tersebut membuka ruang baru bagi penguatan kemitraan antara masyarakat adat dan PT Vale.

Tantangannya kini adalah memastikan dukungan tersebut bertransformasi menjadi manfaat konkret, terutama dalam membuka akses kerja, pendidikan, dan pengembangan ekonomi masyarakat Kolaka.

Reporter : duL