Berita Daerah Kesehatan Kolaka

PT Vale Dorong Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan Lewat Layanan KIA

IMG 3256
Ketgam : Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Harwan Abbas dan Suasana Pelayanan KIA. Foto : PT Vale

KOLAKA, OKESULTRA.ID – PT Vale Indonesia, Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menghadirkan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Program tersebut digelar di Puskesmas Pomalaa, Kelurahan Dawi-Dawi, Rabu (6/5/2026).

Program layanan kesehatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan sosial dan lingkungan perusahaan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas industri, tetapi juga menyentuh aspek pembangunan kualitas hidup masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak.

Layanan KIA difokuskan pada pemeriksaan, pemeliharaan, dan peningkatan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, hingga anak usia bayi, balita, dan prasekolah. Melalui program ini, PT Vale ingin memastikan setiap ibu memperoleh kehamilan yang aman dan persalinan yang sehat.

Kegiatan pemeriksaan rutin dan pendampingan tenaga kesehatan tersebut juga dinilai sejalan dengan program Pemerintah Daerah Kabupaten Kolaka bertajuk “Kolaka Bersih, Sehat, dan Berdaya”.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Harwan Abbas, mengatakan layanan kesehatan ibu dan anak memiliki peran penting dalam mendeteksi dini kehamilan berisiko tinggi serta berbagai gangguan kesehatan yang dapat memengaruhi ibu maupun bayi.

Ancaman DBD dan TBC Masih Nyata, PT Vale Gencarkan Sosialisasi PHBS di Wilayah Binaan

“Untuk kehamilan yang berisiko tinggi, banyak yang harus dideteksi supaya jangan terjadi komplikasi selama hamil dan persalinan nanti,” ujar dr Harwan Abbas dikutip dari akun Instagram Inside Pomalaa, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, pemeriksaan kehamilan secara berkala tidak hanya bertujuan menjaga kesehatan ibu, tetapi juga menjadi langkah awal mencegah stunting sejak masa kandungan.

Ia menjelaskan pertumbuhan janin yang lambat berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yang kemudian dapat meningkatkan risiko stunting pada anak.

“Kalau perkembangan janinnya lambat akan lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Kalau bayi lahir BBLR, itu nanti pasti akan jadi stunting lagi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan pertumbuhan janin agar intervensi kesehatan dapat segera dilakukan, termasuk pemberian makanan tambahan dan pencegahan anemia pada ibu hamil.

PERADIPROF Resmi Dikukuhkan, DPC Sultra Siap Perkuat Organisasi Advokat Modern

“Kalau kita deteksi pertumbuhan janin terhambat, bisa kita masukkan di situ program pemberian makanan tambahan, pencegahan anemia,” katanya menambahkan.

Program layanan KIA yang diinisiasi PT Vale menunjukkan bahwa isu kesehatan maternal dan stunting kini tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga mulai menjadi perhatian sektor industri melalui pendekatan tanggung jawab sosial perusahaan.

Dalam konteks daerah industri seperti Pomalaa, penguatan layanan kesehatan ibu dan anak dipandang penting karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia jangka panjang. Pencegahan stunting sejak fase kehamilan menjadi salah satu strategi yang kini banyak didorong pemerintah untuk menekan masalah gizi kronis di Indonesia.

dr Harwan berharap program serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan diperluas cakupannya agar pelayanan kesehatan maternal dan neonatal di wilayah tersebut semakin optimal.

“Semoga tujuannya tercapai, tujuan utamanya kan menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Itu tujuan utamanya semua,” ujarnya.

Perempuan Diduga Pengedar Sabu Ditangkap di Kendari, Polisi Sita 43 Paket Narkotika

Reporter : duL