Berita Nasional News

Kinerja PT Vale 2025 Naik, Produksi Nikel Tembus 72 Ribu Ton di Tengah Tantangan Operasional

IMG 2606
Ketgam : Lokasi Pertambangan PT. Vale Indonesia. Foto : Humas PT. Vale

JAKARTA, OKESULTRA.ID –  Perusahaan tambang nikel PT Vale Indonesia Tbk (IDX: INCO) mencatatkan kinerja operasional yang relatif stabil sepanjang 2025 meskipun menghadapi tekanan harga komoditas global dan sejumlah tantangan operasional di lapangan.

Berdasarkan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit, produksi nikel dalam bentuk nickel matte mencapai 72.027 metrik ton sepanjang 2025. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang berada pada level 71.311 ton.

Manajemen PT Vale menyebut peningkatan tersebut mencerminkan stabilitas operasional perusahaan dalam menghadapi dinamika industri nikel global.

“Kinerja ini menunjukkan komitmen berkelanjutan Perseroan dalam menjaga keandalan operasional serta mengelola produksi secara efisien sepanjang tahun,” demikian pernyataan manajemen PT Vale dalam keterangan resminya, Senin (16/3/2026).

Produksi Triwulan IV Turun Akibat Pembangunan Furnace

Sinergi PT Vale dan Pemkab Kolaka Hadirkan Layanan Kesehatan hingga ke Rumah Warga

Secara triwulanan, produksi pada triwulan IV 2025 tercatat 17.052 ton, turun sekitar 12 persen dibandingkan produksi triwulan III yang mencapai 19.391 ton.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 pada November 2025.

Proyek rekonstruksi furnace ini diperkirakan selesai pada Mei 2026 dan diharapkan meningkatkan keandalan kapasitas produksi jangka panjang perusahaan.

“Pembangunan kembali Furnace 3 merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan operasional dan keselamatan fasilitas produksi di masa depan,” tulis manajemen.

Penjualan Bijih Saprolit Jadi Sumber Pendapatan Baru

Fatmawati Kasim Marewa: Anak-Anak Bombana Adalah Bintang Kecil Calon Pemimpin Bangsa

Selain produksi utama nikel matte, PT Vale juga mulai memperluas sumber pendapatan melalui penjualan bijih nikel saprolit dari beberapa wilayah operasi baru.

Sepanjang 2025, volume penjualan bijih saprolit mencapai 2,31 juta wet metric tons (wmt).

Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar dengan volume 2,01 juta wmt, sementara Blok Pomalaa menyumbang sekitar 298 ribu wmt.

Volume penjualan tertinggi tercatat pada Oktober 2025 yang mencapai 516 ribu wmt.

Manajemen menyebut langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio bisnis perusahaan.

DR. H. SUPRIADI, S.H., M.H., Ph.D Sosok Pengacara di Balik Perjuangan Praperadilan Bupati Sitaro

“Penjualan bijih saprolit menjadi sumber pendapatan tambahan yang penting di luar produksi nikel matte,” kata manajemen.

Pendapatan Naik di Tengah Harga Nikel Turun

Dari sisi keuangan, PT Vale membukukan pendapatan sebesar US$990,2 jutasepanjang 2025, meningkat sekitar 4 persen dibandingkan pendapatan tahun sebelumnya yang sebesar US$950,4 juta.

Kenaikan ini terjadi meskipun harga rata-rata realisasi nikel matte turun menjadi US$12.157 per ton, atau sekitar 7 persen lebih rendah dibandingkan US$13.086 per ton pada 2024.

Menurut perusahaan, peningkatan pendapatan didorong oleh dua faktor utama yaitu volume pengiriman yang lebih tinggi serta kenaikan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku sejak Juli 2025.

“Lingkungan harga memang lebih lemah, namun peningkatan payability dan volume pengiriman membantu menjaga stabilitas pendapatan Perseroan,” jelas manajemen.

Laba Bersih Melonjak 32 Persen

Di tengah dinamika harga komoditas, PT Vale justru berhasil meningkatkan laba bersih secara signifikan.

Sepanjang 2025, perusahaan mencatat laba bersih sebesar US$76,1 juta, meningkat sekitar 32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sementara itu, EBITDA tercatat US$228,2 juta, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.

Kinerja tersebut didukung oleh disiplin pengendalian biaya serta efisiensi operasional yang terus diperkuat.

Unit biaya kas penjualan tercatat US$9.339 per ton, menjadi salah satu tingkat biaya terendah perusahaan dalam empat tahun terakhir.

Belanja Modal Naik Tajam

PT Vale juga meningkatkan investasi untuk pengembangan proyek pertumbuhan. Sepanjang 2025, belanja modal perusahaan mencapai US$485,9 juta, meningkat 46 persen dibandingkan US$332,1 juta pada 2024.

Dana tersebut digunakan untuk proyek pengembangan tambang baru serta kebutuhan operasional berkelanjutan.

Per 31 Desember 2025, posisi kas perusahaan tercatat US$376,3 juta, yang disebut manajemen cukup kuat untuk mendukung berbagai proyek strategis.

Insiden Kebocoran Pipa Minyak Jadi Ujian Besar

Di balik kinerja operasional yang relatif positif, 2025 juga menjadi tahun yang menantang bagi perusahaan.

Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan adalah insiden kebocoran pipa minyak pada Agustus 2025.

Manajemen PT Vale menyebut peristiwa tersebut menjadi ujian penting bagi komitmen perusahaan terhadap tanggung jawab lingkungan dan masyarakat sekitar.

“Insiden tersebut bukan hanya tantangan teknis, tetapi juga menguji integritas dan tanggung jawab Perseroan terhadap lingkungan serta masyarakat,” kata manajemen.

Proyek Pomalaa dan HPAL Jadi Fokus 2026

Ke depan, PT Vale memfokuskan strategi pada pengembangan proyek hilirisasi bersama mitra usaha patungan.

Proyek pertambangan di Pomalaa saat ini telah mencapai sekitar 60 persen progres, sementara proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) telah memasuki sekitar 50 persen tahap konstruksi.

Proyek HPAL tersebut ditargetkan mencapai penyelesaian mekanis pertama pada triwulan III 2026.

Manajemen menyatakan seluruh inisiatif strategis tersebut akan terus dijalankan dengan disiplin keuangan, tata kelola yang kuat, serta komitmen terhadap prinsip keberlanjutan.

“Kami tetap fokus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan melalui pengelolaan operasi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” tutup manajemen.

Reporter : duL