KONAWE UTARA. OKESULTRA.ID – Dalam momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pesisir Pantai Wisata Watiwa di Desa Mowundo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, menjadi pusat gerakan kepedulian lingkungan yang melibatkan berbagai pihak. Aksi bersih pantai atau Coastal Clean-Up yang dipimpin PT Bumi Konawe Minerina (PT BKM) berhasil mengumpulkan sekitar 1,1 ton sampah dari kawasan pesisir yang selama ini menjadi salah satu destinasi wisata andalan masyarakat setempat.
Kegiatan yang digelar pada Selasa, 16 Juni 2026 itu tidak hanya menjadi simbol peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, tetapi juga menunjukkan komitmen nyata dunia usaha dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ratusan peserta dari berbagai unsur terlibat langsung membersihkan garis pantai yang dipenuhi sampah plastik, kaca, logam, hingga limbah residu lainnya.
PT BKM tidak berjalan sendiri dalam melaksanakan aksi tersebut. Perusahaan menggandeng tiga perusahaan tambang lainnya, yakni PT Sumber Bumi Putera, PT Bumi Nikel Nusantara, dan PT Cinta Jaya. Kolaborasi ini semakin kuat dengan dukungan penuh dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Konawe Utara.

Kepala Teknik Tambang PT BKM, Yopy Tindangen, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga lingkungan, khususnya kawasan pesisir yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem.
“Peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan alam,” ujar Yopy.
Menurutnya, Pantai Watiwa merupakan kawasan yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi yang tinggi. Selain menjadi habitat berbagai biota laut, kawasan tersebut juga menjadi tujuan wisata yang berpotensi meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.
Karena itu, lanjut Yopy, menjaga kebersihan pantai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk sektor industri dan masyarakat.

“Kami percaya bahwa pelestarian lingkungan adalah investasi jangka panjang. Jika lingkungan terjaga, maka manfaatnya akan dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” katanya.
Dari total 1,1 ton sampah yang berhasil dikumpulkan, tim gabungan kemudian melakukan pemilahan langsung di lokasi kegiatan. Sampah dipisahkan ke dalam dua kategori utama, yaitu sampah anorganik yang masih memiliki nilai daur ulang dan sampah residu yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Langkah pemilahan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya penerapan konsep ekonomi sirkular. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan kembali akan diarahkan ke proses daur ulang, sementara sampah residu akan dikelola sesuai prosedur pengelolaan limbah yang berlaku.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Selain mengurangi volume limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, kegiatan tersebut juga memberikan edukasi langsung kepada masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya.
Keberhasilan mengangkat lebih dari satu ton sampah dari kawasan pesisir menjadi gambaran nyata mengenai ancaman pencemaran yang masih dihadapi wilayah pantai. Sampah plastik yang tidak terkelola berpotensi terbawa arus laut dan terurai menjadi mikroplastik yang dapat masuk ke rantai makanan laut.

Fenomena tersebut menjadi salah satu isu utama yang diangkat dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini. Oleh karena itu, aksi bersih pantai yang dilakukan di Watiwa dinilai memberikan kontribusi langsung terhadap upaya pengurangan pencemaran laut sekaligus menjaga kesehatan ekosistem pesisir.
DLH Kabupaten Konawe Utara yang turut mendukung kegiatan tersebut memberikan apresiasi terhadap sinergi yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan tambang. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menghadapi berbagai persoalan lingkungan yang semakin kompleks.
Selain membersihkan kawasan wisata, kegiatan tersebut juga menjadi sarana membangun kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa sampah bukan hanya persoalan pemerintah atau perusahaan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Aksi di Pantai Watiwa juga memperlihatkan wajah lain dari industri pertambangan yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas produksi, tetapi turut mengambil peran dalam program pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan perusahaan dalam kegiatan sosial dan lingkungan menjadi bagian dari komitmen untuk menciptakan hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
Yopy Tindangen menegaskan bahwa kegiatan serupa akan terus didorong sebagai bagian dari program keberlanjutan perusahaan. Menurutnya, pelestarian lingkungan harus menjadi budaya yang tumbuh dan dijaga secara konsisten oleh seluruh pihak.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi pemicu lahirnya gerakan-gerakan lingkungan lainnya. Kolaborasi yang terbangun hari ini membuktikan bahwa ketika pemerintah, perusahaan, dan masyarakat bekerja bersama, maka dampak positif yang dihasilkan akan jauh lebih besar,” ungkapnya.
Ke depan, hasil kolaborasi yang tercipta di Pantai Watiwa diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi kawasan lain di Sulawesi Tenggara. Dengan kesadaran yang terus tumbuh dan dukungan berbagai pihak, harapan untuk mewariskan pesisir yang bersih, laut yang sehat, serta lingkungan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.
Reporter : duL



















