Daerah Berita Kolaka

Hadapi Risiko Meningkat, IGP Pomalaa PT Vale Gandeng Pemerintah dan Masyarakat Bangun Kesiapsiagaan Kebakaran

IMG 5370

KOLAKA, OKESULTRA.ID – Menyikapi naiknya potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah cuaca kemarau, PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa mengintensifkan langkah pencegahan dan mitigasi menyeluruh. Perusahaan menggandeng Kementerian Kehutanan serta Pemerintah Kabupaten Kolaka untuk menyosialisasikan pemahaman lengkap kepada warga di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Upaya ini bukan sekadar penyuluhan parsial, melainkan dirancang membekali masyarakat pengetahuan utuh: mulai dari pencegahan dini, cara pengurangan risiko atau mitigasi, tata cara pelaporan yang cepat dan tepat, hingga kemampuan melakukan penanganan awal saat api mulai muncul. Kegiatan sekaligus mempererat hubungan serta koordinasi tanggap antarunsur lintas sektor di wilayah yang berpotensi rawan.

Project Director IGP Pomalaa PT Vale Indonesia Tbk, Mohammad Rifai, menegaskan pentingnya persatuan kekuatan bersama pemerintah dan instansi terkait. Kolaborasi dinilai kunci mutlak untuk menyamakan persepsi, strategi, serta memastikan pencegahan merata hingga ke tingkat paling bawah atau tapak di lapangan.

Lebih dalam, Rifai menjabarkan bahwa upaya serius mengantisipasi karhutla merupakan bagian tak terpisahkan dari komitmen perusahaan menerapkan prinsip pertambangan berkelanjutan. Di luar kegiatan operasional utama, perlindungan ekosistem lingkungan sekitar dan keselamatan warga yang tinggal di lingkar wilayah kerja menjadi prioritas utama tanggung jawab sosial dan lingkungan.

“Meski merupakan tanggung jawab lintas sektoral, kami mengambil peran aktif melalui mitigasi, penguatan kesiapsiagaan, dan koordinasi di seluruh wilayah konsesi. Kolaborasi ini penting agar potensi kebakaran dapat diantisipasi sedini mungkin,” ujar Rifai tegas di hadapan peserta pertemuan.

Vale Perkuat Budaya Hidup Bersih dan Sehat di Desa Puuroda

Pentingnya pendekatan luas terlihat dari komposisi pemateri yang hadir berbagi wawasan di lokasi kegiatan. Forum ini diisi narasumber berkompetensi dari Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka yang membawa pengalaman teknis langsung.

Keterlibatan pemerintah di tingkat paling dasar Kecamatan Pomalaa dan Pemerintah Desa Totobo serta wilayah sekitar konsesi juga sangat ditekankan. Hal agar informasi tentang risiko, batasan wilayah rawan, hingga tata cara penanganan darurat dapat dipahami serentak dan dijalankan beriringan oleh pemangku kepentingan setempat.

Alasan urgensi langkah pencegahan yang digalakkan kini pun berdasar data riil lapangan yang mengkhawatirkan. Rifai memaparkan adanya peningkatan frekuensi penanganan titik api di wilayah Kabupaten Kolaka dalam waktu dekat. Sepanjang bulan Agustus 2026 saja, Tim Tanggap Darurat atau Emergency Response milik PT Vale telah mencatat hampir 30 kali pengerahan pemadaman kebakaran.

Beragam lokasi yang terjangkit pun tersebar, mulai dari kawasan tutupan hutan, lahan terbuka dan pertanian, hingga mendekati kawasan pemukiman warga yang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Angka ini menjadi peringatan dini bahwa cuaca kemarau kering membuka peluang bahaya menyebar dengan cepat.

Tidak hanya mengandalkan pencegahan lewat informasi, perusahaan juga menyiapkan fondasi kekuatan pertahanan fisik. “Guna mendukung penanggulangan bencana di daerah, PT Vale juga menyiagakan personel terlatih serta armada pemadam kebakaran yang siap dikerahkan sewaktu‑waktu berkoordinasi dengan instansi pemerintah setempat,” lanjut Rifai menambahkan jaminan kesiapan sumber daya.

Kapolres Konsel Apresiasi Langkah Kejaksaan RI dalam Penanganan Perkara SDA

Kegiatan sosialisasi berjalan dinamis dan saling bertukar pandangan. Warga diberi ruang bertanya mengenai kendala yang sering dihadapi di lapangan, cara melapor tanpa keraguan, serta teknik memadamkan api kecil secara aman sebelum berkembang menjadi kebakaran besar yang merugikan.

Perwakilan instansi negara juga memaparkan peraturan kehutanan, penyebab‑penyebab umum kebakaran yang sering kali bersumber dari aktivitas manusia yang kurang terawasi, serta dampak kerugian luas bagi lingkungan dan iklim setempat. Sinergi antarlembaga terlihat harmonis dan saling melengkapi tugas pokok masing‑masing.

Pendekatan yang dilakukan berupaya menjaga keseimbangan antara peran perusahaan, pemerintah pusat/daerah, dan yang paling utama adalah peran masyarakat sebagai penjaga terdekat lingkungannya. Kewaspadaan bersama dianggap sebagai benteng paling murah dan efektif dibandingkan biaya pemadaman saat bencana terjadi.

Harapannya, jejaring komunikasi yang terbentuk hari ini tidak putus setelah kegiatan usai, melainkan tetap terhubung terus sepanjang musim kemarau berlangsung. Respons cepat saat laporan masuk akan sangat menentukan keberhasilan meredam bahaya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sulawesi Tenggara.

Kegiatan di Desa Totobo menjadi bukti nyata bahwa keselamatan dan kelestarian lingkungan tumbuh dari kerja sama yang rapi dan terencana. Kesiapan mental warga, keahlian teknis petugas, serta dukungan sumber daya penuh dari dunia usaha dan pemerintah menjadi satu kesatuan pertahan yang kokoh.

Musim Kemarau Memanas, PT Vale Gandeng Pemerintah Cegah Karhutla di Kolaka

Reporter : duL