Berita Daerah Kolaka

Musim Kemarau Memanas, PT Vale Gandeng Pemerintah Cegah Karhutla di Kolaka

IMG 5314

KOLAKA. OKESULTRA.ID – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kolaka mulai menunjukkan intensitas yang perlu diwaspadai. Sepanjang Agustus 2026, tim Emergency Response PT Vale Indonesia Tbk mencatat hampir 30 kali penanganan kebakaran yang terjadi di kawasan hutan, lahan, hingga permukiman warga.

Situasi tersebut menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan di tengah musim kemarau. Lahan dan vegetasi yang mengering berpotensi membuat api lebih cepat muncul dan meluas, sekaligus meningkatkan risiko terhadap lingkungan, kesehatan, keselamatan masyarakat, serta aktivitas sosial dan ekonomi.

Merespons kondisi itu, PT Vale melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menggelar Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Karhutla di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Selasa (1/9/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya menyasar internal perusahaan. PT Vale menggandeng Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka. Pemerintah kecamatan dan desa dari Kecamatan Pomalaa dan Baula yang wilayahnya berdekatan dengan area operasional perusahaan turut dilibatkan.

Kolaborasi lintas sektor itu diarahkan untuk memperkuat kemampuan para pihak dalam mencegah kebakaran, mengenali potensi risiko, mempercepat pelaporan, serta membangun koordinasi ketika api mulai muncul.

DPC Peradi Kendari Tempati Kantor Baru, Ketua Tekankan Probono dan Etika Profesi

Di tingkat tapak, peran pemerintah kecamatan dan desa dinilai strategis. Aparatur pemerintahan menjadi salah satu mata rantai awal untuk menyampaikan edukasi kepada masyarakat, mengenali wilayah rawan, sekaligus membangun komunikasi apabila ditemukan titik api.

Project Director IGP Pomalaa PT Vale Indonesia Tbk, Mohammad Rifai, menegaskan perusahaan tidak ingin menunggu api membesar sebelum bertindak. Pencegahan dan kesiapsiagaan, kata dia, menjadi bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan.

“PT Vale memiliki kepedulian tinggi terhadap pencegahan dan penanganan Karhutla. Meski merupakan tanggung jawab lintas sektoral, kami mengambil peran aktif melalui mitigasi, penguatan kesiapsiagaan, dan koordinasi yang dijalankan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan,” ujar Rifai, Kamis (3/9/2026).

Menurut Rifai, koordinasi antarpihak menjadi faktor penting agar setiap potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin. Penanganan Karhutla, lanjut dia, tidak bisa dibebankan kepada satu institusi karena ancamannya bersinggungan dengan kepentingan lingkungan dan keselamatan masyarakat.

“Kolaborasi ini penting agar setiap potensi kebakaran dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin,” katanya.

Masyarakat Masaloka Raya Kini Terlayani Air Bersih PDAM. Debit Sumber Masih Jadi Tantangan

Catatan hampir 30 kejadian selama Agustus menjadi dasar PT Vale untuk meningkatkan kewaspadaan. Namun, perusahaan menempatkan kesiapan pemadaman bukan sebagai satu-satunya strategi.

Edukasi masyarakat, pemetaan kawasan rawan, pemantauan kondisi lapangan, penguatan jalur komunikasi, hingga kesiapan respons darurat menjadi bagian dari langkah pencegahan yang terus diperkuat.

PT Vale juga menyatakan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait dalam mendukung penanggulangan Karhutla di Kabupaten Kolaka. Personel terlatih serta armada pemadam kebakaran disiagakan untuk dikerahkan sesuai kebutuhan melalui mekanisme koordinasi penanganan keadaan darurat.

Meski demikian, dukungan perusahaan tetap ditempatkan sebagai bagian dari sinergi penanggulangan yang berada dalam kewenangan masing-masing pihak. Pemerintah memiliki fungsi kebijakan dan koordinasi, sementara masyarakat memegang peranan penting dalam pencegahan serta pelaporan awal.

MITIGASI TAK HANYA DI POMALAA

Bupati Bombana Manfaatkan Waduk PT SIP Atasi Kekeringan Lahan Sawah

Ancaman Karhutla juga tidak dipandang hanya sebagai persoalan di sekitar IGP Pomalaa. PT Vale menyebut langkah mitigasi dan kesiapsiagaan dilaksanakan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) perusahaan.

Penerapannya disesuaikan dengan karakteristik wilayah, tingkat kerawanan, kondisi cuaca, tutupan lahan, kedekatan dengan permukiman, aktivitas masyarakat, serta kesiapan penanganan keadaan darurat.

Perusahaan mengintegrasikan aspek lingkungan, keselamatan, operasional, dan pelibatan pemangku kepentingan melalui identifikasi serta pemetaan area rawan, pemantauan lapangan, kesiapan personel dan sarana tanggap darurat, hingga penguatan prosedur pelaporan dan respons awal.

PT Vale juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat, terutama di kawasan yang berbatasan atau memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.

Langkah tersebut penting karena kemampuan memadamkan api harus berjalan beriringan dengan upaya mencegah api muncul. Semakin cepat potensi kebakaran diketahui, semakin besar peluang kejadian dapat dikendalikan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Di sisi lain, efektivitas penanganan Karhutla tetap membutuhkan koordinasi berkelanjutan antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Kesiapan armada serta personel tidak akan maksimal tanpa sistem pelaporan dan respons yang cepat di lapangan.

Melalui sosialisasi di Desa Totobo dan penguatan sistem kesiapsiagaan di seluruh wilayah operasional, PT Vale berharap risiko Karhutla selama musim kemarau dapat ditekan.

Bagi perusahaan, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab. Bagi pemerintah dan masyarakat, sinergi tersebut diharapkan memperkuat perlindungan terhadap kawasan hutan dan lahan sekaligus menjaga keselamatan warga di sekitar wilayah operasional.

Dengan hampir 30 kejadian yang ditangani dalam satu bulan, musim kemarau di Kolaka menunjukkan bahwa ancaman api bukan persoalan yang bisa ditunggu. Pencegahan, kewaspadaan, dan respons cepat menjadi kunci agar percikan kecil tidak berubah menjadi bencana besar.

Reporter : duL