BOMBANA, OKESULTRA.ID – Pemerintah Kabupaten Bombana melalui Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) menggelar Workshop Pengembangan Desa Wisata Tahun 2026 di Aula Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bombana, Selasa (30/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat kapasitas desa dalam mengembangkan potensi wisata berbasis kearifan lokal.
Workshop tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara Dr. Muhammad Ridwan Badallah, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bombana Andi Astri As’Ad, S.IP., M.A.P., para kepala desa, pelaku usaha pariwisata, organisasi kepariwisataan, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor wisata daerah.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M.Si.Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa desa wisata merupakan salah satu instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan alam, budaya, dan tradisi yang dimiliki Kabupaten Bombana.
Menurut Burhanuddin, pengembangan desa wisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Dibutuhkan tata kelola yang profesional, sumber daya manusia yang kompeten, serta kolaborasi seluruh pihak agar desa wisata mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Desa wisata harus dikelola secara profesional, terencana, dan berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, desa wisata mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Burhanuddin saat membuka kegiatan.
Ia juga mengajak seluruh pemerintah desa agar mampu menggali potensi unggulan di wilayah masing-masing, baik wisata alam, budaya, kuliner, maupun ekonomi kreatif yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Dr. Muhammad Ridwan Badallah, yang hadir sebagai narasumber utama, menekankan bahwa pengembangan desa wisata tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata. Yang jauh lebih penting adalah membangun kualitas sumber daya manusia sebagai penggerak utama sektor pariwisata.
Dr. Muh Ridwan Badallah menjelaskan bahwa setiap desa memiliki keunikan yang berbeda sehingga pengelolaannya harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah, budaya, tradisi, serta potensi alam yang dimiliki. Keaslian dan identitas desa justru menjadi kekuatan utama dalam menarik minat wisatawan.
“Desa wisata tidak dibangun hanya dengan infrastruktur, tetapi dengan keterlibatan masyarakat. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama, maka manfaat ekonomi akan dirasakan secara langsung dan pembangunan pariwisata akan lebih berkelanjutan,” kata Dr. Muhammad Ridwan Badallah.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan desa wisata bergantung pada kemampuan seluruh pihak dalam membangun kolaborasi. Pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, media, dan komunitas harus berjalan bersama agar pengembangan destinasi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Selain itu, Dr Muh Ridwan Badallah menilai promosi digital menjadi kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan desa wisata saat ini. Menurutnya, potensi wisata yang baik harus didukung dengan strategi pemasaran yang kreatif agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bombana, Andi Astri As’Ad, S.IP., M.A.P., menjelaskan bahwa workshop tersebut diselenggarakan sebagai wadah peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintah desa dalam memahami konsep pengelolaan desa wisata yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan.
Menurutnya, desa wisata tidak hanya berbicara mengenai objek wisata semata, tetapi juga bagaimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengelola potensi daerah sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung oleh warga.
“Kami ingin membangun desa-desa di Bombana menjadi destinasi wisata unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat,” kata Andi Astri As’Ad.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan desa wisata sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, akademisi, media, dan komunitas dalam membangun ekosistem pariwisata yang sehat.
Selain itu, materi workshop juga disampaikan oleh Ketua DPD ASKINDO Sulawesi Tenggara, Sartika, yang membahas pentingnya membangun kemitraan antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis komunitas.
Sartika menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting agar desa wisata mampu memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan. Menurutnya, keramahan masyarakat, kebersihan lingkungan, inovasi produk lokal, hingga pemanfaatan media digital menjadi aspek yang harus terus diperkuat.
Selama kegiatan berlangsung, peserta terlihat aktif berdiskusi dan menyampaikan berbagai pengalaman serta tantangan yang dihadapi dalam mengembangkan potensi wisata di desa masing-masing. Berbagai masukan tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus langkah awal dalam menyusun strategi pengembangan desa wisata yang lebih efektif.
Melalui workshop ini, Pemerintah Kabupaten Bombana berharap seluruh desa yang memiliki potensi wisata dapat terus berkembang menjadi destinasi yang memiliki daya saing, mampu menarik kunjungan wisatawan, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Bombana untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu pilar pembangunan daerah yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, melestarikan budaya lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan desa wisata yang profesional, inovatif, dan berkelanjutan.
Reporter : duL



















