Berita Nasional News

PT Vale Bawa Inovasi Maggot BSF ke Invirotech 2026, Dorong Indonesia Menuju Nol Sampah

IMG 3782
Ketgam : Suasana Pembukaan Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026. Foto : Humas Vale

JAKARTA. OKESULTRA.ID –  Di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim dan persoalan pengelolaan sampah di Indonesia, PT Vale Indonesia Tbk hadir membawa pengalaman nyata dari kawasan operasionalnya di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Melalui ajang Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026, perusahaan tambang nikel tersebut memperkenalkan berbagai inovasi lingkungan yang telah dijalankan secara berkelanjutan selama bertahun-tahun.

Partisipasi PT Vale dalam pameran yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan nasional.

Mengusung tema “Green Solution Technology for Climate Action”, Invirotech menjadi ruang kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk menampilkan teknologi dan inovasi ramah lingkungan.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan menyambut langsung Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, yang mengunjungi area pameran perusahaan.

Bupati Bombana Dorong Hilirisasi dan Konektivitas Jadi Motor Pertumbuhan Sulawesi

Dalam pameran tersebut, PT Vale bergabung bersama MIND ID dan sejumlah anggota holding industri pertambangan Indonesia. Kehadiran mereka tidak hanya menampilkan capaian operasional perusahaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana sektor pertambangan dapat berkontribusi dalam penyelesaian persoalan lingkungan secara konkret.

Salah satu program yang menjadi perhatian pengunjung adalah pengelolaan sampah organik berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF). Inovasi ini telah diterapkan di wilayah Sorowako dan menjadi bagian penting dalam membangun sistem ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan.

Program tersebut berangkat dari kesadaran bahwa persoalan sampah harus ditangani sejak dari sumbernya. Karena itu, PT Vale mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui pemilahan sampah rumah tangga yang dilakukan secara langsung di tingkat keluarga.

Langkah nyata dimulai melalui Program Emberisasi yang diluncurkan pada Desember 2024. Program ini mengajak masyarakat untuk memisahkan sampah organik menggunakan ember khusus yang ditempatkan di setiap rumah. Tahap awal program melibatkan 100 rumah karyawan yang berada di Perumahan Pontada.

Hasilnya cukup signifikan. Setiap hari, program tersebut mampu mengumpulkan rata-rata 100 kilogram sampah organik yang kemudian diangkut oleh tim pengelola untuk diproses lebih lanjut. Keberhasilan ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk memperluas penerapan program kepada masyarakat umum di sekitar wilayah operasional.

Hadiri Perayaan Kemerdekaan AS ke-250, Gubernur Sultra Perkuat Diplomasi Pembangunan Daerah

Menurut PT Vale, perubahan pola pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga karena sebagian besar sampah berasal dari aktivitas domestik. Dengan keterlibatan langsung warga, proses pengurangan sampah menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Sampah yang telah terkumpul kemudian diproses di fasilitas pemilahan atau Segregation Plant. Fasilitas ini mampu menangani antara 12 hingga 15 ton sampah organik maupun anorganik setiap hari, menjadikannya salah satu sistem pengelolaan sampah terpadu yang cukup maju di kawasan tersebut.

Dari jumlah tersebut, sekitar 500 hingga 700 kilogram sampah organik diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan pertanian dan penghijauan. Sebagian lainnya digunakan sebagai pakan maggot BSF yang dikenal mampu mengurai limbah organik secara cepat dan efisien.

Menariknya, maggot yang telah tumbuh dewasa kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan. Proses ini menciptakan siklus ekonomi sirkular yang tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

Sementara itu, sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna seperti plastik, botol kaca, dan scrap besi dipilah untuk disalurkan melalui bank sampah maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Bombana Jemput Dukungan Energi dari Pusat, Usulan PJUTS dan Penguatan Listrik Kabaena Masuk Roadmap 2027

Dalam setahun, total donasi sampah terpilah yang disalurkan mencapai sekitar empat ton.

Untuk memastikan sistem tersebut berjalan optimal, PT Vale mengalokasikan anggaran pengelolaan sampah lebih dari Rp700 juta setiap tahun. Investasi tersebut menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjadikan pengelolaan lingkungan sebagai bagian integral dari operasional bisnis.

Bernardus Irmanto menegaskan bahwa apa yang dipamerkan PT Vale di Jakarta bukan sekadar konsep atau proyek percontohan semata. Menurutnya, seluruh sistem yang ditampilkan merupakan praktik nyata yang telah berjalan dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di Sorowako.

“Apa yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep, ini adalah apa yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, ke fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas dari sampah. Kami percaya bahwa perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan, dan ini adalah bukti kami,” ujar Bernardus Irmanto.

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan paradigma industri ekstraktif yang kini dituntut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Lebih jauh, PT Vale menilai bahwa keberhasilan pengelolaan sampah hanya dapat dicapai melalui kolaborasi berbagai pihak. Karena itu, perusahaan membangun ekosistem yang melibatkan tiga unsur utama, yakni karyawan, komunitas, dan pemerintah daerah dalam satu sistem pengelolaan terpadu.

Partisipasi PT Vale dalam Invirotech 2026 juga sejalan dengan agenda Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) serta mendukung visi Indonesia Emas 2045 yang menjadi bagian dari arah pembangunan nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan mineral strategis untuk transisi energi global, perusahaan berupaya memastikan bahwa aktivitas pertambangan tetap berjalan beriringan dengan prinsip keberlanjutan.

Dengan berbagai inovasi yang telah dijalankan, PT Vale menargetkan tercapainya nol sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir (TPA) pada tahun 2050. Target tersebut menjadi penanda bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada produksi nikel, tetapi juga berupaya menghadirkan model pembangunan yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.

Reporter : duL