JAKARTA, OKESULTRA.ID – Upaya hilirisasi nikel nasional kembali menunjukkan perkembangan positif. PT. Vale Indonesia (INCO) mengungkapkan bahwa pembangunan smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, mengalami percepatan signifikan dan berpotensi mulai beroperasi lebih cepat dari target awal.
Smelter HPAL yang menjadi bagian dari proyek strategis Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa ini sebelumnya ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026. Namun, seiring progres konstruksi yang melampaui ekspektasi, jadwal tersebut kini berpeluang maju ke kuartal III/2026.
Head of Corporate Finance and Investor Relations INCO, Andaru Brahmono Adi menyampaikan bahwa percepatan ini tidak lepas dari sinergi kuat dengan para mitra global yang terlibat dalam proyek tersebut.
“Tadinya kami perkirakan fasilitasnya akan mulai beroperasi di kuartal IV tahun ini, tapi ternyata ada percepatan yang luar biasa dari partner kami, sehingga kemungkinan kami akan bisa lebih cepat beroperasi kuartal III/2026,” ujar Andaru dalam sesi buka puasa bersama media, Jumat (6/3/2026) malam.
Pilar Hilirisasi di Tanah Celebes
Proyek HPAL Pomalaa merupakan bagian dari strategi besar Vale Indonesia dalam mengembangkan ekosistem hilirisasi nikel terintegrasi di Indonesia, khususnya di Pulau Sulawesi atau Tanah Celebes.
Selain Pomalaa, perseroan juga mengembangkan proyek serupa melalui IGP Sorowako Limonite dan IGP Morowali. Ketiganya dirancang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik dan industri berbasis nikel.
Dalam pengembangan Pomalaa, Vale menggandeng mitra strategis global seperti Ford Motor Company dan Huayou Kolaborasi ini tidak hanya mencakup pembangunan smelter HPAL, tetapi juga pengelolaan tambang nikel di kawasan tersebut.
Kapasitas Besar, Nilai Tambah Tinggi
Smelter HPAL Pomalaa dirancang untuk mengolah bijih nikel menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting dalam produksi baterai kendaraan listrik.
Produksi tambang di kawasan ini diperkirakan mencapai sekitar 7 juta Wet Metric Ton (WMT) bijih nikel saprolite serta 21 juta WMT bijih nikel lainnya setiap tahun. Dari jumlah tersebut, smelter HPAL ditargetkan mampu menghasilkan MHP dengan kapasitas hingga 120 ribu ton per tahun.
“Kalau teman-teman dengar, proyek Pomalaa kami ini, HPAL ini nanti akan menghasilkan kapasitasnya sekitar 120 ribu ton dalam bentuk MHP,” jelas Andaru.
Investasi Besar dan Progres Nyata
Untuk merealisasikan proyek ambisius ini, Vale Indonesia menggelontorkan investasi hingga sekitar US$4,5 miliar. Investasi tersebut mencakup pengembangan tambang sekaligus pembangunan fasilitas pemurnian nikel berbasis teknologi HPAL.
Sejauh ini, progres pembangunan menunjukkan capaian signifikan. Empat dari lima mesin utama smelter telah berhasil terpasang, memperkuat optimisme bahwa proyek ini dapat segera memasuki tahap operasional.
“Itu menambah keyakinan kami, betapa para partner semua terhubung ke proyek ini. Kita cukup optimistis semuanya akan bisa cepat,” tambah Andaru.
Menuju Masa Depan Industri Nikel
Percepatan proyek HPAL Pomalaa menjadi sinyal kuat bahwa transformasi industri nikel Indonesia menuju hilirisasi tidak hanya berjalan, tetapi juga semakin matang.
Dengan dukungan teknologi, kolaborasi global, serta komitmen investasi besar, PT. Vale Indonesia, Tbk terus mempertegas perannya sebagai salah satu penggerak utama dalam membangun industri berbasis nilai tambah di dalam negeri.
Ke depan, keberhasilan proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam ekosistem baterai kendaraan listrik dunia.
Reporter : duL








