JAKARTA, OKESULTRA.ID – Di tengah transformasi industri tambang nasional menuju hilirisasi, PT. Vale Indonesia, (INCO) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat peran strategis Indonesia di rantai pasok global nikel. Salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan adalah rencana revisi kuota produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun buku 2026.
Langkah ini bukan sekadar penyesuaian administratif, melainkan bagian dari strategi besar perusahaan untuk menjawab tantangan sekaligus peluang di sektor hilirisasi mineral.
Direktur dan Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer INCO, Budiawansyah menegaskan bahwa kebutuhan peningkatan kuota produksi sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap pemegang saham serta proyek-proyek hilirisasi yang tengah dikembangkan.
“Karena ada beberapa komitmen yang memang harus kita lakukan. Seperti komitmen kepada shareholder dan juga komitmen kepada proyek hilirisasi kita,” ujar Budiawansyah dalam media briefing di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Konsistensi Produksi dan Fondasi Kuat di Sorowako
Di tengah rencana revisi tersebut, Vale memastikan stabilitas produksi tetap terjaga. Operasi Sorowako sebagai tulang punggung produksi nickel matte tetap berjalan sesuai proyeksi.
Hal ini dimungkinkan karena RKAB untuk wilayah Sorowako telah mendapatkan persetujuan penuh, sehingga aktivitas produksi tidak terdampak oleh rencana penyesuaian kuota.
Kondisi ini mencerminkan kekuatan operasional Vale yang mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi dan keberlanjutan produksi.
Pomalaa: Episentrum Pertumbuhan Baru
Di sisi lain, perhatian besar kini tertuju pada pengembangan proyek Pomalaa yang menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP). Proyek ini diposisikan sebagai motor pertumbuhan baru Vale Indonesia dalam mendukung hilirisasi nikel nasional.
Hingga saat ini, progres pembangunan proyek Pomalaa telah mencapai 62 persen. Sejumlah infrastruktur kunci telah rampung, mulai dari North Access Road (NAR), gedung Main Construction Office, hingga fasilitas persemaian modern dengan kapasitas satu juta bibit pohon.
Keberadaan fasilitas persemaian ini menjadi simbol komitmen perusahaan terhadap prinsip keberlanjutan dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Tidak hanya itu, pembangunan berbagai fasilitas pendukung juga terus dikebut. Area hunian pekerja (Living Area/Operation Camp) telah mencapai progres 41 persen, sementara Workshop dan Office Area masing-masing mencatat capaian 57 persen.
Vale juga menggandeng mitra global, Huayou melalui entitas KNI, dalam pembangunan fasilitas Feed Preparation Plant dan High Pressure Acid Leach (HPAL). Kolaborasi ini telah mencatat progres lebih dari 36 persen.
Menuju Tahap Produksi
Dengan perkembangan tersebut, Vale Indonesia menargetkan proyek Pomalaa dapat mencapai tahap mechanical completion pada Agustus 2026. Tahap ini menjadi penanda kesiapan fasilitas untuk memasuki fase produksi.
Langkah ini sekaligus mempertegas posisi Vale sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia.
Komitmen Jangka Panjang
Revisi kuota produksi yang direncanakan tidak hanya berorientasi pada peningkatan output, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Melalui kombinasi antara optimalisasi produksi di Sorowako dan percepatan proyek Pomalaa, Vale Indonesia terus memperkuat fondasi menuju industri pertambangan yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan bernilai tinggi.
Dengan arah strategi tersebut, perusahaan optimistis mampu menjawab tuntutan pasar global sekaligus berkontribusi pada agenda hilirisasi nasional yang menjadi prioritas pembangunan Indonesia.
Reporter : duL
















