Inspirasi

Panggilan Suci di Ujung Laut: ERNILINA Simbol Pendidikan Yang Tak Pernah Kalah

BA65EA7D F9C1 4499 9D61 D4B99C89A1BB
Ketgam : Guru SMA Ernilina, S.Pd.I., Gr, guru SMA Negeri 14 Bombana. Foto : İst

Oleh: Tim Redaksi

KASIPUTE – Di peta administrasi Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Pulau Masaloka hanyalah titik kecil yang dikelilingi hamparan laut luas. Namun bagi Ernilina, S.Pd.I., Gr, guru di SMA Negeri 14 Bombana, pulau itu adalah medan pengabdian yang setiap hari menguji keteguhan hati, keberanian, dan pengorbanan hidup. Sebagai pengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, ia bukan sekadar pengantar materi dari buku teks, melainkan jembatan ilmu yang harus menembus rintangan alam demi satu tujuan: memastikan anak-anak di perbatasan tidak kehilangan haknya untuk belajar.

Setiap hari, perjalanan Ernilina dimulai jauh sebelum matahari terbit. Dari ibu kota kabupaten, Kasipute, ia harus perjalanan darat menuju pantai Tabako  lalu menyeberangi perairan yang sering kali berombak ganas  menggunakan ojek laut menuju pulau seribu arus itulah julukan khusus untuk pulau Masaloka Raya. Tidak ada kapal besar yang nyaman, hanya perahu kecil atau ojek laut yang menjadi satu-satunya akses.

Di tengah lautan, angin kencang dan ombak tinggi bukan sekadar fenomena alam, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa. Ia menyeberang bukan untuk mencari keuntungan, melainkan membawa harapan bagi ratusan siswa yang menanti kedatangannya di seberang pulau.

Kisah Ernilina bukanlah kisah luar biasa yang hanya terjadi sekali. Ini adalah rutinitas, pengulangan pengorbanan yang dilakukan berulang kali, hari demi hari, tahun demi tahun. Di tengah gemuruh ombak, ia sering kali merenung: apakah harus selalu ada nyawa yang dipertaruhkan demi sebuah hak dasar pendidikan? Pertanyaan ini tidak ditujukan untuk meratapi nasib, melainkan menjadi cermin tajam bagi kita semua tentang bagaimana negara hadir di wilayah-wilayah terluar.

Santoso: Mengubah Karier dari Karyawan Menjadi Petani yang Sukses

43062FCF A680 417A A686 22C4E7F894C3

Secara administratif, Pulau Masaloka adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara aturan, setiap warga negara berhak mendapatkan layanan pendidikan yang layak dan terjangkau. Namun realitas di lapangan berbicara lain. Keterbatasan akses transportasi, minimnya fasilitas penunjang, hingga belum meratanya alokasi sarana prasarana pendidikan di wilayah kepulauan menjadi dinding tebal yang memisahkan antara kebijakan di atas kertas dengan kenyataan di lapangan.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa kebijakan pendidikan nasional selama ini lebih banyak berfokus pada peningkatan kurikulum, sertifikasi, maupun penilaian kinerja guru. Hal-hal tersebut memang penting. Namun, apa gunanya sistem kurikulum yang sempurna jika guru yang seharusnya menyampaikannya harus mempertaruhkan nyawa hanya untuk sampai ke tempat tugas? Apa makna sertifikasi dan tunjangan jika pengabdian masih harus dibayar dengan rasa takut menyeberangi lautan yang tidak ramah?

Ernilina, dengan segala kesederhanaannya, menjadi simbol bahwa guru di daerah terluar adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Ia mengajarkan Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, nilai-nilai tentang kebaikan, ketekunan, dan tanggung jawab. Namun tanpa sadar, kehadirannya sendiri sudah menjadi pelajaran hidup paling nyata bagi murid-muridnya. Anak-anak di belajar bahwa untuk mencapai sesuatu yang berharga, diperlukan keberanian melawan arus dan kesungguhan hati.

224A202A 84FD 4785 BF8F 4F2BE20CA144

Namun, pengabdian yang luar biasa ini tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggengkan keterbatasan. Kita memuji semangat Ernilina, tetapi kita juga harus kritis: apakah semangat saja cukup untuk menjamin masa depan pendidikan di pulau-pulau kecil? Apakah negara harus bergantung selamanya pada kesukarelaan dan pengorbanan pribadi setiap guru, sementara pengembangan infrastruktur dan aksesibilitas berjalan lambat?

Kritik ini bukan bermaksud menghakimi pemerintah daerah maupun pusat. Kita menyadari bahwa pengelolaan wilayah kepulauan memiliki tantangan tersendiri dan membutuhkan perencanaan matang serta anggaran besar. Namun, tantangan geografis tidak boleh dijadikan alasan abadi untuk menunda pemenuhan hak warga negara. Justru wilayah yang sulit dijangkau itulah yang seharusnya mendapatkan prioritas utama, bukan sekadar menjadi catatan tambahan dalam laporan kegiatan.

Kebijakan pengembangan pendidikan di daerah kepulauan harus mulai berubah orientasinya. Tidak cukup hanya mengirim guru, tetapi harus memastikan keamanan, kenyamanan, dan kesejahteraan mereka. Penyediaan moda transportasi yang memadai, pembangunan asrama guru di lokasi tugas, hingga sistem pendampingan yang terintegrasi adalah hal-hal mendesak yang harus segera dirumuskan dan dilaksanakan.

3E151C9F B483 4873 B6AD 2E1B43DBB9D7

Kehadiran Ernilina di SMA Negeri 14 Bombana juga membuktikan kualitas sumber daya manusia guru di daerah. Dengan gelar S.Pd.I., Gr, ia memiliki kompetensi akademik dan profesional yang setara dengan guru di kota besar. Namun, lingkungan kerja yang mendukung kompetensi tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Potensi besar ini akan sia-sia jika terus tergerus oleh kesulitan akses dan beban pengorbanan yang berlebihan.

Kisah Ernilina mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan guru adalah kuncinya. Jika kunci ini terus dipaksa bekerja dalam kondisi sulit, maka pintu kemajuan di wilayah seperti Masaloka akan sulit terbuka lebar. Negara tidak boleh hanya berterima kasih atas pengorbanan, tetapi wajib menciptakan sistem agar pengorbanan itu tidak lagi harus dilakukan dalam bentuk yang berisiko nyawa.

Bagi masyarakat Kabupaten Bombana, khususnya warga Pulau Masaloka, kehadiran Ernilina adalah anugerah. Ia bukan sekadar pengajar, melainkan penjamin masa depan anak-anak mereka. Setiap kali ia berhasil menyeberang dengan selamat, itu berarti peluang bagi anak-anak Masaloka untuk melangkah lebih maju semakin terbuka lebar.

979E111B 31A1 4FF8 8F2D 611C41A58CCC

Tantangan di depan mata masih sangat besar. Perubahan kebijakan tidak bisa terjadi dalam semalam. Namun, langkah awal harus dimulai sekarang. Mendengarkan aspirasi guru di daerah terluar, memetakan kebutuhan riil di lapangan, dan mengalokasikan anggaran yang tepat sasaran adalah langkah konkret yang harus diambil.

Kisah Ernilina, S.Pd.I., Gr adalah pengingat bagi kita semua: kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari gedung tinggi di ibu kota, tetapi juga dari seberapa jauh kita mampu menjangkau mereka yang tinggal di ujung pulau, di seberang lautan. Selama masih ada guru yang harus bertarung melawan ombak demi mengajar, maka tugas negara untuk melayani belum selesai.

Pengabdian Ernilina adalah cermin kebaikan hati manusia, namun sekaligus menjadi cermin jernih bagi kebijakan yang masih harus diperbaiki. Semoga keberaniannya menjadi pemicu perubahan, sehingga suatu hari nanti, menyeberang ke pulau terluar bukan lagi kisah perjuangan nyawa, melainkan kisah akses yang mudah, aman, dan terjamin bagi semua. (***)