Berita Metro

Rumah Oleh-Oleh Pertama Morowali Dibuka, UMKM Bungku Timur Didorong Tembus Pasar Lebih Luas

IMG 5104

MOROWALI. OKESULTRA.ID – Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, kini memiliki etalase baru untuk mengangkat produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Rumah Oleh-Oleh Kecamatan Bungku Timur di Desa Bahomoahi resmi beroperasi dan diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk masyarakat untuk menembus pasar yang lebih luas.

Kehadiran fasilitas tersebut sekaligus menandai babak baru pengembangan ekonomi berbasis masyarakat di Morowali. Rumah oleh-oleh ini disebut sebagai yang pertama di Kabupaten Morowali, dibangun melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Morowali, Pemerintah Kecamatan Bungku Timur, masyarakat, serta PT Vale Indonesia Tbk melalui Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

Staf Ahli Perekonomian Kabupaten Morowali Anwar Saimu yang hadir mewakili Bupati Morowali menegaskan, keberadaan rumah oleh-oleh tidak semata menjadi tempat transaksi produk UMKM. Lebih jauh, fasilitas itu diharapkan menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

“Rumah Oleh-Oleh Kecamatan Bungku Timur ini merupakan yang pertama di Kabupaten Morowali. Kehadirannya menjadi contoh nyata sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Anwar Saimu.

Menurut Anwar, tantangan UMKM tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Pelaku usaha juga membutuhkan akses pasar, promosi, kemasan yang menarik, serta ruang yang mampu mempertemukan produk lokal dengan konsumen.

Smelter HPAL Pomalaa Rampung 100 Persen, Vale Bersiap Masuk Tahap Komisioning

Karena itu, ia berharap Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur dapat berkembang menjadi etalase strategis produk unggulan daerah. Keberadaannya diharapkan ikut meningkatkan pendapatan pelaku usaha sekaligus memperkuat daya saing produk lokal Morowali.

“Harapannya, pusat oleh-oleh ini mampu menjadi etalase strategis untuk meningkatkan pendapatan pelaku usaha lokal sekaligus memperkuat daya saing produk daerah,” ujarnya.

Rumah oleh-oleh tersebut menampung beragam produk hasil pendampingan masyarakat. Produk yang dipasarkan antara lain olahan makanan, kerajinan tangan, hingga berbagai produk kreatif yang mencerminkan potensi khas Morowali.

Konsep yang dibangun juga tidak sekadar menjadikan fasilitas tersebut sebagai tempat penjualan. Rumah oleh-oleh diarahkan menjadi ruang promosi agar produk masyarakat lebih mudah dikenal wisatawan maupun konsumen dari luar daerah.

Di sisi lain, keberadaan fasilitas pemasaran dinilai penting untuk menjawab salah satu persoalan klasik UMKM, yakni keterbatasan akses pasar. Produk yang bagus tidak otomatis berkembang apabila tidak memiliki saluran pemasaran yang konsisten.

Investasi Jadi Kunci Bombana Hadapi Pemangkasan Anggaran, Bupati: Harus Berbuah untuk Rakyat

Community Development Officer PT Vale IGP Morowali Salwa mengatakan, dukungan terhadap Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat rantai nilai ekonomi masyarakat.

“Kami percaya bahwa UMKM memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi lokal yang kuat dan berkelanjutan. Karena itu, PT Vale secara konsisten memberikan pendampingan mulai dari pelatihan kewirausahaan, kapasitas produksi, kemasan, hingga strategi pemasaran,” ujar Salwa.

Menurut Salwa, penguatan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh. Pendampingan produksi saja dinilai belum cukup jika pelaku usaha tidak memiliki akses terhadap pasar yang mampu menyerap produk mereka secara berkelanjutan.

“Akses pasar yang berkelanjutan menjadi kunci utama agar usaha masyarakat dapat terus berkembang, tidak hanya berhenti pada proses produksi,” katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan ekosistem yang saling terhubung. Produksi, kualitas, kemasan, promosi, hingga pemasaran harus berjalan beriringan agar usaha masyarakat tidak berhenti setelah memperoleh pelatihan.

PT Vale Lawan Hama Tikus di Morowali, Burung Hantu Jadi Senjata Alami

Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Bungku Timur Zaenab Arsan juga mengapresiasi hadirnya fasilitas pemasaran tersebut. Menurut dia, rumah oleh-oleh memberikan ruang baru bagi pengrajin dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka.

“Pendampingan yang diberikan tidak hanya meningkatkan keterampilan dan kualitas produk, tetapi juga membangun kepercayaan diri masyarakat untuk terus berkembang,” tutur Zaenab.

Dengan beroperasinya Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menyediakan tempat penjualan, tetapi memastikan fasilitas tersebut benar-benar hidup dan mampu menciptakan pasar yang berkelanjutan bagi produk masyarakat.

Keberhasilan rumah oleh-oleh itu pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh konsistensi pendampingan, kualitas produk, kemampuan pelaku UMKM membaca pasar, serta dukungan promosi dari berbagai pihak. Jika seluruh mata rantai tersebut berjalan, Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur berpeluang menjadi model penguatan UMKM yang dapat direplikasi di wilayah lain di Morowali.

Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha pun menjadi modal penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi lokal tidak hanya bertumpu pada sektor berskala besar. Di tengah geliat ekonomi Morowali, UMKM dituntut mampu mengambil ruang lebih besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Rumah Oleh-Oleh Bungku Timur kini menjadi titik awal. Dari Desa Bahomoahi, produk lokal Morowali diharapkan tidak hanya dikenal oleh masyarakat setempat, tetapi mampu bergerak lebih jauh dan menjadi bagian dari wajah ekonomi kreatif daerah.

Reporter : duL