Berita Metro Nasional

Vale Pacu Ekosistem Industri Hijau di Morowali, Investasi HPAL Tembus US$2 Miliar

IMG 5059

JAKARTA, OKESULTRA.ID – PT Vale Indonesia Tbk tidak sekadar mengejar produksi nikel di Morowali, Sulawesi Tengah. Melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali-Bahodopi, perusahaan tambang itu mulai mendorong pembangunan ekosistem industri terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan konsep industri hijau sebagai salah satu pijakan pengembangannya.

Langkah tersebut menempatkan Morowali-Bahodopi sebagai salah satu proyek strategis PT Vale dalam memperkuat rantai nilai nikel. Aktivitas pertambangan, pengolahan, hingga industri pendukung diarahkan berada dalam satu ekosistem untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nikel.

Rencana pengembangan tersebut disampaikan Direktur sekaligus Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Budiawansyah mengatakan bahan baku utama untuk pengembangan industri tersebut akan berasal dari tambang Blok Bahodopi. Bijih nikel, khususnya limonit, akan menjadi salah satu komponen penting dalam menopang fasilitas pengolahan di kawasan tersebut.

“Vale dengan segala best mining practice-nya menyuplai bahan baku dari tambang Blok Bahodopi ke situ, limonit, dan berharap itu akan menjadi sebuah green industry,” kata Budi.

PT Vale Lawan Hama Tikus di Morowali, Burung Hantu Jadi Senjata Alami

Konsep yang ditawarkan PT Vale tidak berhenti pada aktivitas penambangan dan pengolahan bijih. Perusahaan juga membuka peluang bagi tumbuhnya industri pendukung di dalam kawasan, termasuk fasilitas recycling atau daur ulang yang akan dikembangkan oleh tenant.

Masuknya industri pendukung tersebut diharapkan menciptakan mata rantai produksi yang lebih terintegrasi. Dengan demikian, kawasan Morowali-Bahodopi tidak hanya menjadi lokasi produksi bahan baku, tetapi juga berkembang sebagai pusat aktivitas industri dengan rantai nilai yang lebih panjang.

Dalam desain tersebut, IGP Morowali-Bahodopi diposisikan sebagai anchor industryyang dapat menjadi penggerak bagi tumbuhnya industri lain. Efek berantai dari investasi di sektor nikel diharapkan tidak berhenti pada perusahaan utama, tetapi turut menciptakan ruang bagi industri pendukung di sekitar kawasan.

Dari sisi hulu, tambang Bahodopi-Morowali telah memasuki tahap operasi sejak kuartal III 2025. Produksi saat ini disebut mencapai sekitar 2,2 juta ton.

Ketika beroperasi penuh, kapasitas produksi tambang tersebut diproyeksikan mencapai sekitar 5,5 juta ton saprolit dan 10,4 juta ton limonit per tahun. Angka tersebut sekaligus menggambarkan besarnya kebutuhan bahan baku untuk menopang fasilitas pengolahan yang tengah dikembangkan.

PT Vale Mulai Perundingan PKB ke-22, Sembilan Wakil Serikat Pekerja Duduk Satu Meja dengan Manajemen

Limonit akan menjadi bahan baku penting untuk fasilitas pengolahan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Teknologi tersebut memungkinkan bijih nikel kadar rendah diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), salah satu produk antara dalam rantai pasok material baterai kendaraan listrik.

Untuk membangun fasilitas HPAL tersebut, PT Vale menggandeng GEM dan Ecopro melalui perusahaan patungan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI). Kemitraan tersebut menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan hilirisasi nikel di Morowali.

Nilai investasi pembangunan pabrik HPAL BNSI diperkirakan mencapai sekitar US$2 miliar. Fasilitas tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 66.000 ton nikel dalam bentuk MHP.

Untuk mencapai kapasitas tersebut, fasilitas HPAL diproyeksikan membutuhkan sekitar 10,4 juta ton bijih limonit dan 1 juta ton saprolit. Kebutuhan bahan baku dalam jumlah besar menunjukkan bahwa keberadaan tambang Bahodopi memiliki posisi strategis bagi keberlangsungan fasilitas pengolahan tersebut.

Namun, ambisi membangun rantai industri terintegrasi juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan tata kelola yang kuat. Integrasi pertambangan, pengolahan dan industri pendukung harus berjalan beriringan dengan penerapan standar lingkungan, keselamatan kerja, serta pengelolaan dampak sosial dan ekonomi di wilayah sekitar.

Desa Tikonu Juara I Lomba Desa Sultra, Pemprov Ganjar Penghargaan di HUT RI ke-81

PT Vale menempatkan konsep green industry sebagai bagian dari arah pengembangan IGP Morowali-Bahodopi. Perusahaan menyatakan pengembangan proyek tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan volume produksi, tetapi juga menciptakan industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan komitmen perusahaan berdasarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang berlaku hingga 28 Desember 2035. Dalam periode tersebut, pengembangan kawasan menjadi bagian dari perjalanan panjang PT Vale dalam mengoptimalkan sumber daya nikel sekaligus membangun nilai tambah di dalam negeri.

Bagi Morowali, proyek tersebut berpotensi memperkuat posisi daerah sebagai salah satu pusat industri nikel nasional. Kehadiran fasilitas pengolahan dan industri pendukung membuka peluang terbentuknya rantai pasok baru yang lebih panjang dibandingkan sekadar aktivitas penambangan dan penjualan bijih.

Namun, besarnya investasi dan skala produksi juga membuat keberhasilan proyek tidak hanya diukur dari jumlah nikel yang dihasilkan. Manfaat ekonomi bagi daerah, penyerapan tenaga kerja, penguatan industri lokal, serta konsistensi terhadap standar lingkungan akan menjadi bagian penting dalam menilai dampak pengembangan kawasan tersebut.

Dengan demikian, IGP Morowali-Bahodopi kini memasuki fase penting dalam peta hilirisasi nikel Indonesia. Jika integrasi antara tambang, HPAL, industri pendukung dan fasilitas recycling dapat diwujudkan sesuai rencana, kawasan tersebut berpeluang berkembang dari sekadar sentra produksi nikel menjadi ekosistem industri yang lebih lengkap.

Pada akhirnya, tantangan terbesar PT Vale bukan hanya memastikan tambang dan fasilitas pengolahan beroperasi sesuai target. Tantangannya adalah membuktikan bahwa industrialisasi nikel skala besar dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan, kepentingan masyarakat, dan penciptaan nilai tambah yang lebih besar bagi ekonomi daerah maupun nasional.

Reporter : duL