BOMBANA. OKESULTRA.ID – Sebanyak 2.830 hektar lahan persawahan di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, kini mendapat kepastian pasokan air dan dukungan pengairan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Penyaluran bantuan ini merupakan hasil tindak lanjut resmi atas permohonan yang diajukan langsung oleh Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M.Si, guna menyelamatkan ribuan hektar sawah yang terancam kering dan menurun produktivitasnya akibat dampak musim kemarau panjang sepanjang tahun 2026.
Musim kemarau yang melanda wilayah Sulawesi Tenggara sepanjang tahun ini membuat curah hujan turun drastis, sungai dan saluran irigasi menyusut, sehingga banyak lahan persawahan di Bombana terancam gagal panen. Melihat kekhawatiran yang melanda kalangan petani, Bupati Burhanuddin segera menyusun dan mengajukan permohonan terperinci ke pemerintah pusat, agar petani tidak menanggung kerugian besar dan ketahanan pangan daerah tetap terjaga.
Bantuan yang disalurkan pemerintah pusat memiliki nilai yang nyata dan langsung dirasakan petani penerima. Setiap satu hektar lahan sawah yang masuk dalam program optimasi lahan ini mendapatkan dukungan sebesar Rp4.600.000. Dana tersebut bersifat fleksibel, diserahkan pengelolaannya kepada kelompok tani agar disesuaikan dengan kebutuhan riil di lapangan, tidak dibatasi hanya pada satu jenis sarana pengairan.
Bupati Bombana, Ir. H. Burhanuddin, M.Si, menjelaskan bahwa kebebasan memilih penggunaan bantuan ini sengaja diberikan agar solusi benar-benar tepat sasaran di tiap lokasi yang kondisinya berbeda-beda.
“Nanti tergantung para petani, apakah uang tersebut mau digunakan buat sumur bor atau apa, tergantung mereka,” tegas Bupati Burhanuddin saat memberikan keterangan kepada awak media.
Program ini difokuskan pada upaya optimasi pemanfaatan lahan persawahan yang terancam tidak produktif akibat kekeringan. Sebagian besar lahan penerima bantuan adalah wilayah yang terdampak langsung dan paling parah oleh kemarau panjang tahun 2026, di mana irigasi konvensional tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan air tanaman padi secara berkelanjutan.
“Jadi program optimalisasi lahan dari kementrian pertanian sejumlah 2.830 hektar di mana setiap hektar mendapat bantuan keuangan sebesar 4.600.000 dana tersebut lansung masuk di rekeningnya kelompok tani,”jelas Bupati, Senin (24/08/2026).
Sebanyak 172 kelompok tani yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Bombana resmi tercatat sebagai penerima manfaat program ini. Jumlah kelompok tani yang cukup besar ini menunjukkan dampak kekeringan meluas, sekaligus menjadi bukti respons cepat pemerintah pusat dan daerah dalam menjangkau petani di pelosok desa agar tidak terlantar.
Penyaluran bantuan tersebar merata di lima kecamatan yang menjadi sentra produksi padi utama di Bombana, meliputi Kecamatan Latari Jaya, Rarowatu Utara, Rumbia, Rimbia Tengah, dan Tontonunu. Penentuan lokasi dilakukan berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan dan verifikasi lapangan oleh Dinas Pertanian bersama pemerintah kecamatan dan kelompok tani agar tidak ada bantuan yang meleset sasaran.
Fleksibilitas penggunaan dana bantuan ini dinilai sangat menguntungkan petani, karena kebutuhan pengairan tiap lahan berbeda: ada yang lebih cocok membangun sumur bor untuk mengambil air tanah, ada yang memerlukan pompa air untuk menyedot air dari sungai atau saluran, ada pula yang memerlukan perpipaan dan perbaikan saluran irigasi kecil.
Pemerintah daerah menegaskan pengajuan ini berlandaskan kondisi fakta di lapangan, bukan keinginan berlebihan. Setiap usulan telah melalui verifikasi teknis agar anggaran negara benar-benar sampai ke tangan petani yang berhak dan paling membutuhkan, serta terhindar dari penyalahgunaan atau penyaluran yang tidak terukur.
Dengan adanya dukungan ini, kelompok tani kini memiliki kemampuan mandiri menyediakan sumber air cadangan, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada air hujan atau aliran sungai yang menyusut saat kemarau. Air dapat disediakan secara terukur sesuai kebutuhan tanaman, sehingga masa pertumbuhan padi terjaga dan risiko gagal panen dapat ditekan secara signifikan.
Dinas Pertanian Kabupaten Bombana akan terus mendampingi dan memantau penggunaan bantuan ini di lapangan. Penyuluh pertanian lapangan akan hadir membimbing kelompok tani merencanakan dan melaksanakan penggunaan dana agar tepat guna, tercatat tertib, dan hasilnya dapat dirasakan hingga masa panen tiba.
Pemerintah daerah juga mengimbau kelompok tani penerima untuk memelihara sarana pengairan yang dibangun dengan dana bantuan tersebut secara baik dan berkelanjutan. Sumur bor, pompa air, maupun saluran irigasi yang terawat akan terus memberi manfaat jangka panjang, bahkan saat musim kemarau kembali melanda di tahun-tahun mendatang.
Kehadiran bantuan ini sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah secara menyeluruh. Ketika ribuan hektar sawah tetap terairi dan produktif meski cuaca kering melanda, pasokan beras bagi masyarakat Bombana tetap terjamin, harga relatif stabil, dan kebutuhan konsumsi tidak terancam kelangkaan.
Langkah ini menjadi bukti nyata sinergi yang efektif antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Bupati Burhanuddin berharap kerja sama ini tidak berhenti saat kemarau usai, melainkan terus diperkuat dengan pengembangan sarana irigasi berkelanjutan agar pertanian Bombana makin tangguh menghadapi perubahan iklim.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian juga menegaskan komitmen mendukung pompanisasi dan pengembangan sumber air pertanian di berbagai daerah sebagai strategi nasional menjaga produksi pangan. Keberhasilan program di Bombana diharapkan menjadi contoh baik kolaborasi pusat-daerah dalam melindungi kesejahteraan petani.(Adv)
Reporter : duL







