KOLAKA. OKESULTRA.ID – Proyek hilirisasi nikel PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) di Blok Pomalaa, Sulawesi Tenggara, memasuki fase penentuan. Infrastruktur smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL) senilai US$3,4 miliar itu telah menyentuh mechanical completion 100 persen dan kini tinggal menunggu rangkaian pengujian sebelum masuk tahap komisioning.
Capaian tersebut menandai berakhirnya fase konstruksi mekanik proyek yang digadang-gadang menjadi salah satu simpul penting dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale, Budiawansyah, mengatakan seluruh pekerjaan konstruksi mekanik smelter telah diselesaikan. Namun, rampungnya konstruksi belum serta-merta berarti fasilitas telah memasuki produksi komersial.
“Itu konteks mechanical completion sudah selesai, sudah 100 persen. Mechanical completion di situ adalah sudah selesai secara mekanik proses konstruksinya, tinggal testing commissioning,” kata Budiawansyah dalam taklimat media di Jakarta Selatan, Kamis (13/8/2026).
Dengan demikian, perhatian kini bergeser dari penyelesaian konstruksi menuju pengujian dan pembuktian kesiapan fasilitas. Tahap tersebut menjadi penting untuk memastikan seluruh sistem bekerja sebagaimana desain sebelum smelter benar-benar beroperasi.
Budiawansyah menyebut proses pengujian tersebut tidak akan membutuhkan waktu panjang. Menurut dia, secara fisik fasilitas telah siap dan persoalan berikutnya lebih terkait tahapan pengoperasian serta agenda peresmian.
“Enggak lama [pengujiannya]. Nanti kalau masalah perayaan kan tinggal kapan kita mau bikin aja, yang penting kan fisiknya tuh siap beroperasi,” tegasnya.
Smelter HPAL Pomalaa dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 120.000 ton kandungan nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Produk MHP menjadi salah satu bahan antara penting dalam rantai pasok material baterai kendaraan listrik.
Untuk menopang operasi tersebut, fasilitas ini membutuhkan pasokan bijih dalam jumlah besar. Kebutuhannya diproyeksikan mencapai sekitar 21 juta ton bijih limonit per tahun serta sekitar 720.000 ton saprolit per tahun.
Skala proyek itu juga tercermin dari kebutuhan tenaga kerja. Vale memperkirakan proyek Pomalaa menyerap sekitar 10.679 pekerja selama tahap konstruksi, sedangkan kebutuhan tenaga kerja pada fase operasi diproyeksikan sekitar 3.017 orang.
Nilai investasi yang ditanamkan dalam proyek tersebut diperkirakan mencapai US$3,4 miliar. Dalam pengembangannya, Vale menggandeng Huayou dan Ford sebagai mitra dalam pembangunan smelter.
Namun, tantangan proyek tidak berhenti ketika konstruksi dinyatakan selesai. Setelah komisioning, perusahaan masih harus memastikan fasilitas dapat beroperasi secara stabil, memenuhi target produksi, sekaligus memperoleh kepastian pasar untuk produk yang dihasilkan.
Vale sebelumnya memberikan sinyal untuk membidik pasar baterai kendaraan listrik domestik seiring rencana beroperasinya smelter HPAL Pomalaa pada kuartal III 2026. Perseroan juga masih menjajaki potensi penyerapan produk bersama para mitra usahanya.
Budiawansyah mengatakan perusahaan saat ini masih memprioritaskan penyelesaian proyek sembari berdiskusi mengenai arah hilirisasi dan potensi offtaker. Langkah tersebut dinilai penting karena perjalanan MHP menuju produk baterai kendaraan listrik masih melewati rantai pengolahan yang panjang.
“Terkait dengan offtaker, kita fokus untuk men-deliver project karena pada dasarnya kita berdiskusi dengan partner dan juga nanti akan kita bawa ke mana hilirisasi ini,” kata Budiawansyah.
Menurut dia, pemerintah menginginkan pembangunan ekosistem industri baterai yang terintegrasi di dalam negeri. Karena itu, keberadaan smelter HPAL Pomalaa tidak semata dilihat sebagai proyek produksi MHP, tetapi sebagai salah satu mata rantai dalam agenda hilirisasi nikel nasional.
“Karena pada dasarnya pemerintah ingin melihat terbentuknya sebuah ekosistem industri [baterai EV] di dalam negeri,” ujarnya.
Budiawansyah menambahkan, rantai pasok kendaraan listrik berbasis MHP masih panjang sebelum mencapai tahap battery packing. Karena itu, Vale mengaku terus berkoordinasi dengan pemerintah dan mitra untuk menentukan arah pengembangan hilirisasi tersebut.
“Karena kita melihat rantai [pasok] EV berbasis MHP masih cukup panjang dari MHP tersebut untuk menuju ke sebuah battery packing. Jadi bagaimanapun kita berkoordinasi dengan pemerintah, bagaimana tetap mewujudkan ekosistem baterai terintegrasi yang ada di Indonesia,” tegasnya.
Di sisi hulu, tambang Blok Pomalaa telah beroperasi sejak kuartal I 2026. Tambang tersebut dirancang menghasilkan sekitar 7 juta ton bijih saprolit dan 21 juta ton bijih limonit per tahun. Hingga kini, produksi tercatat sekitar 2 juta ton saprolit dan 2,1 juta ton limonit.
Vale sebelumnya juga telah menjual bijih nikel pertama dari tambang proyek tersebut pada 28 Februari 2026. Perusahaan menargetkan produksi limonit sekitar 300.000 ton per bulan atau setara kurang lebih 9.677 ton per hari.
Jika Pomalaa tengah memasuki fase komisioning, proyek hilirisasi Vale lainnya di Sulawesi juga bergerak dengan tingkat kemajuan berbeda. Di Morowali, proyek Indonesia Growth Project (IGP) telah memasuki fase operasional, sementara Blok Bahodopi dilaporkan mulai beroperasi sejak kuartal I 2025.
Untuk sektor tambang di Morowali, konstruksi fase pertama telah mencapai 100 persen. Vale kini berfokus pada persiapan penyelesaian fase kedua yang ditargetkan rampung pada 2027. Pada awal 2026, sekitar 2,2 juta ton bijih dari proyek tersebut telah terjual.
Sementara itu, pabrik HPAL di Morowali yang dikembangkan melalui kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton MHP per tahun. Progres pembangunannya telah mencapai sekitar 36 persen dan ditargetkan selesai pada Maret 2027, dengan nilai investasi sekitar US$2 miliar.
Di Sulawesi Selatan, Vale bersama Huayou juga mengembangkan proyek Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite di Blok Sorowako yang memiliki luas sekitar 70.566 hektare. Proyek tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan hilirisasi nikel limonit.
Hingga Juni 2026, pembangunan tambang Sorowako Limonite telah mencapai sekitar 50 persen, sedangkan pembangunan fasilitas HPAL berada di kisaran 19 persen. Fasilitas tersebut dirancang menghasilkan sekitar 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi pada Desember 2027.
Rangkaian proyek tersebut memperlihatkan besarnya taruhan Vale dalam agenda hilirisasi nikel Indonesia. Namun, capaian konstruksi tetap harus dibuktikan melalui kinerja operasional, kepastian pasar, efisiensi produksi, serta kemampuan proyek menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Dengan mechanical completion Pomalaa yang telah mencapai 100 persen, babak baru kini dimulai. Setelah bertahun-tahun berada di meja perencanaan dan konstruksi, smelter HPAL tersebut tinggal selangkah menuju pengujian dan komisioning—fase yang akan menentukan apakah proyek raksasa itu benar-benar mampu mengubah cadangan nikel menjadi kekuatan baru dalam rantai industri baterai Indonesia.
Reporter : duL







