Berita Nasional News

Tinjau Proyek HPAL PT Vale, Menteri Investasi Tekankan Prinsip Tambang Berkelanjutan

IMG 4473
Ketgam : Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal serta CEO Danantara Indonesia, saat meninjau langsung proyek strategis PT Vale Indonesia di Morowali . Foto : PT Vale

MOROWALI. OKESULTRA.ID – Di tengah laju percepatan transformasi ekonomi nasional melalui kebijakan hilirisasi, pemerintah menegaskan satu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar: kemajuan industri harus berjalan beriringan dengan kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat.

Pesan tegas ini disampaikan langsung oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta CEO Danantara Indonesia, Rosan P. Roeslani, saat meninjau langsung proyek strategis PT Vale Indonesia di Morowali.

Kunjungan ini berlangsung tak lama setelah seremoni kedatangan autoclave, peralatan paling vital dan inti dari proyek pengolahan nikel berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang berlokasi di kawasan pabrik Sambalagi. Kehadiran pejabat tinggi negara ini menjadi bukti betapa besarnya perhatian pemerintah terhadap kualitas investasi yang masuk ke Indonesia, bukan sekadar jumlah nilai investasinya.

Dalam kunjungan kerja tersebut, Rosan didampingi jajaran pimpinan Danantara, termasuk Managing Director Danantara Asset Management, Febriany Eddy. Rombongan disambut hangat oleh pimpinan tertinggi perusahaan, mulai dari Chief Executive Officer (CEO) PT Vale, Bernardus Irmanto, Chief Project Officer (CPO) Muhammad Asril, hingga seluruh jajaran manajemen senior.

Tidak hanya melihat fasilitas produksi, Rosan sengaja menyempatkan waktu menelusuri berbagai inisiatif keberlanjutan yang dijalankan perusahaan. Salah satu titik fokus yang menjadi pusat perhatian adalah fasilitas nursery atau pusat pembibitan tanaman. Lokasi ini menjadi bukti nyata bagaimana perusahaan mempersiapkan pemulihan lahan jauh sebelum aktivitas tambang berakhir.

Data Jadi Nyawa Kebijakan: Pemprov Sultra Perkuat Tata Kelola Menuju PEMDI 2026

Di lokasi tersebut, CEO PT Vale, Bernardus Irmanto, memaparkan secara rinci langkah-langkah pengelolaan lingkungan yang diterapkan secara menyeluruh. Mulai dari pengembangan bibit asli daerah, tahapan rehabilitasi dan reklamasi, pengelolaan kolam endapan, hingga program konservasi yang berjalan berkelanjutan.

Penjelasan ini memberikan gambaran jelas bahwa operasional PT Vale tidak berhenti pada pengambilan sumber daya, melainkan memiliki tanggung jawab penuh mengembalikan fungsi lingkungan. Fasilitas pembibitan ini bukan sekadar lahan tanam, melainkan simbol integrasi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) ke dalam setiap langkah bisnis perusahaan.

Melihat langsung upaya nyata ini, Rosan P. Roeslani menyampaikan apresiasi yang tinggi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan hilirisasi nasional tidak hanya dinilai dari nilai tambah ekonomi, tetapi juga bagaimana dampaknya dirasakan dan dijaga bagi alam dan manusia.

“Saya sangat senang dan berbahagia dapat melihat langsung lokasi PT Vale di Morowali. Hal yang paling saya perhatikan adalah bagaimana aspek keberlanjutan yang menjaga keseimbangan antara lingkungan dan sosial sangat diperhatikan di sini. Kita melihat adanya fasilitas pembibitan, serta penerapan praktik pertambangan terbaik dengan standar internasional. Harapannya, hal tersebut dapat terus dijaga,” ujar Rosan dengan tegas.

Pernyataan ini menegaskan pergeseran paradigma pemerintah. Investasi yang diinginkan saat ini adalah investasi yang berkualitas, yang mampu memberikan manfaat jangka panjang, bukan sekadar mengejar keuntungan sesaat. Rosan menekankan bahwa industri yang kuat adalah industri yang mampu tumbuh bersama lingkungan dan masyarakat sekitarnya, bukan merusak salah satunya.

Proyek HPAL Sambalagi Capai Tonggak Penting dengan Kedatangan Autoclave, Perkuat Masa Depan Hilirisasi Berkelanjutan

“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menjaga keselarasan dari segi bisnis itu sendiri, baik dari aspek ESG maupun dari sisi masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, investasi yang masuk dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, bukan hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi daerah dan masyarakat,” tambahnya.

Setelah meninjau pusat pembibitan, rombongan bergerak menuju dermaga atau jetty, infrastruktur strategis yang menjadi urat nadi distribusi hasil produksi. Dari titik ini, efisiensi dan tata kelola fasilitas pendukung juga menjadi sorotan penting dalam penilaian pemerintah.

Bahkan, rombongan berkesempatan melakukan pengamatan dari udara. Pemandangan dari ketinggian menampilkan gambaran utuh wilayah operasional, di mana area produksi tampak berdampingan rapi dengan area penghijauan yang sudah direklamasi. Ini menjadi bukti visual bahwa pertambangan dan pelestarian alam bisa berjalan berdampingan.

Pendekatan komprehensif ini menjadi landasan PT Vale dalam mendukung agenda hilirisasi nasional. Perusahaan membuktikan bahwa membangun pabrik pengolahan bukanlah satu-satunya tujuan, melainkan menciptakan warisan pembangunan yang seimbang antara ekonomi, ekologi, dan kesejahteraan sosial.

Secara terpisah, Komisaris Utama PT Vale Indonesia, Fauzambi Syahrul Multhazar, juga memberikan penilaian positif terhadap kesiapan proyek ini. Menurutnya, persiapan yang matang sejak awal menjadi kunci keberhasilan dan kesesuaian dengan arah kebijakan negara.

Tekan Dampak Lingkungan: PT Vale Siapkan 1 Juta Bibit Tahunan, Bukti Tambang Tak Selalu Rusak Alam

“Saya menilai proyek ini dipersiapkan dengan baik, direncanakan dengan baik, dan akan dieksekusi dengan baik. Tentunya, proyek ini juga berjalan seiring dengan arah hilirisasi pemerintah. Morowali, menurut saya, menjadi proyek percontohan yang baik,” ungkap Fauzambi.

Dengan dukungan teknologi canggih, komitmen lingkungan, dan dukungan penuh pemerintah, proyek IGP Morowali kini tidak hanya menjadi proyek industri, melainkan standar baru bagi pertambangan Indonesia. Tantangan selanjutnya adalah menjaga konsistensi ini hingga ke lapisan terbawah, memastikan bahwa keberhasilan di Morowali dapat menular ke seluruh wilayah tambang lainnya di nusantara.

Bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia secara keseluruhan, langkah ini memberikan harapan nyata: bahwa kekayaan alam dapat diolah menjadi kemajuan ekonomi tanpa harus mengorbankan masa depan bumi dan generasi mendatang.

Reporter: duL