Dr. HIJRIANI, S.H., M.H
Dosen Pascasarjana/Kepala LPPM Unsultra
Setiap zaman punya tokohnya. Dan setiap tokoh, sekuat apa pun pengaruhnya, pada akhirnya kembali kepada Allah. Kepergian Ayatullah Ali Khamenei, Sang Rahbar Iran, menjadi bukti tak terbantahkan. Pada 28 Februari 2026, beliau syahid akibat serangan rudal targeted Israel di kompleks kepemimpinannya di Teheran, serangan yang diklaim sebagai balasan atas dukungan Iran pada perlawanan Palestina. Dunia Islam berduka, geopolitik bergolak.
Kepergian Khamenei bukan sekadar politik. Beliau menguncang perasaan kolektif. Beliau bahkan sebagian besar masyarakat dunia sebagai simbol perlawanan anti-Zionis dan anti-Amerika. Sejarah Islam mencatat dan penuh contoh. Dalam sejarah Islam, kita sudah melihat pola itu berulang.
Wafatnya Umar bin Khattab membuat Madinah seperti kehilangan penopang. Gugurnya Ali bin Abi Thalib membelah dunia Islam dalam duka dan ketegangan panjang. Bukan semata karena mereka tokoh besar, tetapi karena umat merasa sandaran mereka tiba-tiba hilang.
Hari ini dunia terbakar. Konflik geopolitik tajam—blok kekuatan berhadapan, Selat Hormuz jadi simbol ketegangan, narasi perlawanan vs dominasi Zionis-Amerika berseliweran. Narasi perlawanan dan dominasi, keadilan dan kepentingan, berkelindan tanpa henti di ruang publik. Syahidnya Khamenei di tengah itu dimaknai lebih dalam: pergantian kekuasaan poros Timur Tengah.
Bagi pendukung, beliau lambang keteguhan. Tapi sesungguhnya spiritualnya lebih dalam.
Ketika seorang pemimpin yang dianggap simbol perlawanan pergi, banyak orang akan membacanya sebagai perubahan arah sejarah. Ada yang melihatnya sebagai kehilangan besar. Ada pula yang menilainya sebagai pergantian babak baru.
Sejarah memang berputar. Tidak ada dominasi yang abadi. Imperium bangkit dan runtuh. Poros kekuatan bergeser. Yang bertahan hanyalah hukum Allah dan nilai yang ditetapkan-Nya.
Dalam setiap zaman, selalu ada figur yang dianggap berdiri ketika yang lain diam. Ada yang dipandang berani melawan arus global ketika negara-negara lain tunduk pada tekanan ekonomi dan diplomasi. Ayatullah Ali Khamenei, figur yang menjadi simbol keteguhan. Namun bagi dunia barat, beliau tetap bagian dari kompleksitas politik global.
Lantas, apakah dunia sedang menuju perang besar? Hanya Allah yang tahu. Sejarah terlalu sering mengejutkan manusia yang merasa dirinya sudah paling siap. Namun tanda-tanda ketegangan global memang tidak bisa dipungkiri. Blok-blok kekuatan saling mengukur jarak. Sanksi ekonomi menjadi senjata. Lautan strategis berubah menjadi simbol ancaman. Diplomasi terasa dingin, sementara retorika semakin panas.
Tetapi bagi orang beriman, alarm terbesar sesungguhnya bukan semata pergerakan kapal perang atau manuver rudal. Yang lebih mengkhawatirkan justru kondisi hati umat itu sendiri.
Karena perang besar selalu diawali oleh perang kecil di dalam dada: kebencian yang dipelihara, prasangka yang ditumbuhkan, dan fanatisme yang dibiarkan membesar tanpa kendali.
Di titik inilah konflik Sunni–Syiah seringkali menjadi bahan bakar yang sengaja disulut. Sejarah memang mencatat ketegangan teologis dan politik sejak wafatnya Rasulullah ﷺ.
Tragedi Karbala menjadi luka mendalam yang membelah emosi umat selama berabad-abad. Itu fakta sejarah yang tidak bisa dihapus.
Namun yang perlu disadari, dalam banyak fase modern, ketegangan tersebut kerap dieksploitasi oleh kepentingan geopolitik. Narasi sektarian diperbesar, dipelintir, disebarkan melalui media, diproduksi ulang dalam propaganda digital. Tujuannya sederhana: memecah konsolidasi umat.
Jika hari ini Sunni dan Syiah terus dipertentangkan tanpa ruang dialog, tanpa kedewasaan ilmiah, tanpa adab, maka yang diuntungkan bukan umat.
Yang diuntungkan adalah pihak yang memang ingin melihat Islam sibuk bertikai dengan dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling dengki, jangan saling membelakangi. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Persaudaraan yang dimaksud tentu bukan menghapus perbedaan fikih atau teologi. Perbedaan itu bagian dari dinamika intelektual Islam. Tetapi menjadikannya bahan kebencian permanen adalah persoalan lain.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah akan terjadi perang dunia ketiga?
Dalam situasi global yang panas, umat justru dituntut lebih matang secara spiritual. Tidak mudah terhasut. Tidak mudah mengkafirkan. Tidak mudah menuduh sesat. Tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membatalkan ukhuwah.
Karena bisa jadi, tanda akhir zaman bukan hanya tentang perang besar atau runtuhnya dominasi Barat. Bisa jadi ia justru tentang hilangnya hikmah, hilangnya adab, dan mudahnya umat saling melukai atas nama kebenaran.
Dan di situlah alarm yang sesungguhnya berbunyi.
Bukan sekadar di selat yang dijaga kapal perang. Bukan di panggung pidato para pemimpin. Tetapi di dada setiap Muslim: apakah kita memilih menjadi bagian dari solusi, atau justru tanpa sadar menjadi alat dari propaganda perpecahan.





