Berita Bombana Daerah

Sri Wahyuni Ningsi: SMK Negeri 02 Bombana Mencetak SDM Unggul, Terampil, Beretika, dan Kokoh Berakar Pada Jati Diri Bangsa

E44B4381 5C08 4751 9EB7 DF1AED78A7F8
Ketgam : Sri Wahyuni Ningsi (kedua dari kiri) bersama para guru SMK Negeri 02 Bombana, Kepala KCD Dikbud Sultra dan Bupati Bombana. Foto : Sri WN

BOMBANA.  OKESULTRA.ID – Setiap tanggal 1 Juni, seluruh rakyat Indonesia kembali diingatkan akan satu hal paling mendasar yang menjadi akar, fondasi, sekaligus jiwa dari keberadaan negara dan bangsa ini. Pancasila, dasar negara yang disepakati dan ditetapkan sejak tahun 1945, kini telah berusia lebih dari tujuh dekade, tetap berdiri kokoh, tidak lapuk dimakan usia, dan terbukti mampu menjawab segala tantangan besar sejarah yang pernah melanda negeri yang luas dan beragam ini. Di tahun 2026 ini, peringatan Hari Lahir Pancasila kembali hadir membawa makna yang sangat dalam, berharga, dan penuh pesan kehidupan, khususnya bagi dunia pendidikan, tempat di mana nilai-nilai luhur ini ditanamkan, ditumbuhkan, dan diteruskan ke generasi penerus.

Di SMK Negeri 02 Bombana, lembaga pendidikan kejuruan yang berkomitmen mencetak sumber daya manusia yang cakap, mandiri dan berdaya saing, peringatan ini dimanfaatkan bukan sekadar kegiatan seremonial biasa, melainkan momen berharga untuk kembali merenungkan makna besar tujuan pendidikan itu sendiri. Salah satu pendidik di sekolah ini, Sri Wahyuni Ningsi, S.Pi., Gr, menyampaikan pesan istimewa, tulus dan menyentuh hati yang ditujukan secara khusus kepada seluruh peserta didik yang sedang menempuh pendidikan dan pembentukan jati diri di tempat ini. Bagi beliau, mengajarkan keterampilan, keahlian teknis dan ilmu pengetahuan adalah tugas pokok, namun menanamkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nilai Pancasila merupakan tugas yang jauh lebih utama, mendasar dan menentukan kualitas manusia yang dihasilkan nantinya.

Dalam pandangan Sri Wahyuni Ningsi, keistimewaan bangsa Indonesia terletak persis pada kelima sila yang terangkum indah dan sempurna tersebut. Pancasila bukanlah sekadar susunan kata-kata indah yang tertulis di atas kertas, dibacakan saat upacara bendera atau dihafalkan demi menjawab soal ujian sekolah semata. Lebih dari itu, bagi beliau, Pancasila adalah pandangan hidup, petunjuk arah, dan aturan tidak tertulis namun sah yang mengatur bagaimana kita harus hidup, bersikap, berbuat, berhubungan dengan sesama manusia, dengan alam, dengan lingkungan, bahkan dengan Sang Pencipta. Nilai yang terkandung di dalamnya sudah mencakup segala aspek kehidupan, lengkap dan menyeluruh, sehingga jika diterapkan dengan benar dan sungguh-sungguh, niscaya akan melahirkan kehidupan yang damai, tertib, adil, makmur dan bahagia.

“Kepada seluruh anak-anakku, para pelajar tercinta SMK Negeri 02 Bombana, inilah pesan saya paling mendalam bertepatan hari bersejarah ini: Bekal ilmu, keahlian, dan keterampilan yang kalian peroleh di sini memang sangat penting dan akan menjadi modal kalian hidup mandiri, berkarya, serta membantu orang tua dan masyarakat kelak. Tetapi ingatlah pesan penting ini: sehebat apa pun keahlian yang kalian miliki, setinggi apa pun pencapaian yang kalian raih, dan sebanyak apa pun keuntungan yang kalian dapatkan, semuanya itu tidak akan bernilai besar, tidak akan bertahan lama, bahkan bisa menjadi hal yang merugikan dan membahayakan jika tidak disertai, tidak dijiwai, dan tidak dilandasi oleh nilai-nilai luhur Pancasila,” ujar Sri Wahyuni Ningsi menyampaikan inti pemikirannya, Usai Mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Kantor Bupati Bombana, Senin (1/6/2026).

Beliau menjelaskan satu per satu makna mendalam sila demi sila, dikaitkan langsung dengan kehidupan sehari-hari maupun dengan dunia kerja dan profesi yang akan mereka geluti nanti. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi dasar utama dan paling pertama. Menurutnya, segala sesuatu yang kita kerjakan, mulai dari belajar, berlatih, berusaha hingga nanti bekerja, haruslah bermula dari niat yang baik, jujur, dan disertai kesadaran penuh bahwa segala kemampuan yang kita miliki sebenarnya adalah titipan dan pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, wajib hukumnya digunakan untuk hal-hal yang baik, bermanfaat, tidak boleh digunakan untuk menipu, merugikan, atau mencelakakan orang lain. Bekerja dan berkarya yang jujur, rajin dan bertanggung jawab sesungguhnya juga merupakan wujud ibadah dan rasa syukur tertinggi.

Hari Lahir Pancasila 2026: Andi Asri As’ad Tekankan Nilai Kebangsaan Sebagai Fondasi Utama Pembangunan Pariwisata Daerah

“Jadikanlah setiap keterampilan tangan dan ilmu yang kalian kuasai sebagai sarana berbakti dan berbuat kebaikan. Ingat, orang yang pandai tapi tidak takut kepada Tuhan ibarat pisau tajam namun ada di tangan orang yang tidak berhati-hati atau berniat buruk, bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain di sekelilingnya. Jadilah orang yang cerdas dan terampil, namun yang lebih utama lagi adalah jadilah orang yang beriman dan bertaqwa,” tegasnya mengingatkan.

Selanjutnya, nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab pada sila kedua diartikan sebagai tuntunan cara kita memperlakukan sesama manusia. Sebagai calon tenaga ahli, pekerja, maupun pengusaha, para pelajar dituntut memiliki rasa hormat, sopan santun, tenggang rasa, dan selalu menempatkan manusia pada tempat yang mulia. Tidak boleh ada sikap merendahkan orang lain, bersikap kasar, atau membeda-bedakan teman maupun orang lain berdasarkan status, kekayaan, asal usul atau apa pun alasannya. Keahlian yang tinggi wajib disandingkan dengan perilaku yang luhur, halus budi pekertinya dan selalu menjunjung tinggi hak serta martabat orang lain. Sri Wahyuni Ningsi menegaskan, kemajuan sebuah profesi atau pekerjaan tidak akan berarti apa-apa jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak manusiawi, tidak jujur atau merugikan banyak pihak.

“Sering-seringlah menempatkan diri di posisi orang lain. Kalau kalian tidak suka dirugikan, jangan merugikan orang lain. Kalau kalian ingin dihargai, hargailah orang lain terlebih dahulu. Itulah inti ajaran kemanusiaan yang diajarkan bangsa kita melalui Pancasila,” tambahnya memberi pengertian sederhana namun sangat bermakna.

Sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia menjadi poin pesan yang paling ditekankan dan sangat relevan bagi lingkungan sekolah maupun kehidupan bermasyarakat ke depannya. Beliau mengingatkan kembali bahwa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku bangsa, beragam bahasa, adat istiadat, agama dan kebiasaan. Keberagaman besar inilah kekayaan terbesar kita, namun sekaligus merupakan tantangan besar pula jika tidak dijaga rasa persatuannya. Di dalam lingkungan pendidikan kejuruan, semangat persatuan diterjemahkan menjadi semangat kerja sama, saling membantu, belajar bersama, bergotong royong, serta menghargai perbedaan pendapat dan kemampuan antarteman. Tidak boleh ada perpecahan, permusuhan atau rasa merasa lebih hebat dan lebih penting dibandingkan yang lain.

“Anak-anakku, ingatlah baik-baik: satu tangan saja jari-jarinya berbeda panjang dan bentuknya, tapi bersatu menjadi genggaman yang kuat dan berguna luar biasa. Begitulah kalian, kalian punya kelebihan masing-masing, bakat dan kemampuan berbeda-beda, tapi jika bersatu, saling mengisi dan melengkapi, kekuatan kalian akan menjadi besar sekali, tak terhingga nilainya. Kelak di dunia kerja nanti, tidak ada satu pun pekerjaan besar dan berat yang bisa selesai sempurna hanya dikerjakan sendirian. Butuh kerjasama, butuh rasa satu tujuan, butuh persatuan. Pancasila mengajarkan kita: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” ungkapnya penuh semangat.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026: Nina Maerina Ingatkan Guru dan Pelajar Bombana Jaga Nilai Pemersatu Bangsa

Masih menurut pandangan beliau, prinsip Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mengajarkan kita cara menentukan sikap, cara mengambil keputusan, cara menyelesaikan masalah dan perbedaan pendapat dengan jalan musyawarah, berdiskusi, mendengarkan pendapat orang lain dan mencari jalan tengah yang paling baik dan adil bagi semua pihak. Sikap memaksakan kehendak sendiri, keras kepala atau merasa paling benar bertentangan keras dengan nilai ini. Sementara itu, nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengingatkan tujuan akhir segala pembangunan dan pekerjaan haruslah bertujuan membawa kesejahteraan, kemajuan dan manfaat yang merata, tidak boleh hanya dinikmati sebagian orang saja, serta senantiasa menjaga kelestarian alam dan lingkungan hidup tempat kita hidup dan mencari nafkah.

Sri Wahyuni Ningsi menyampaikan bahwa tantangan generasi masa kini jauh lebih berat dibandingkan masa lalu. Kemajuan teknologi, derasnya arus informasi dan terbukanya hubungan antarbangsa membawa dampak dua sisi: sisi positif mempermudah segala hal, namun sisi negatifnya masuknya nilai-nilai asing yang belum tentu cocok atau bahkan bertentangan dengan budaya dan jati diri bangsa Indonesia. Di saat seperti inilah peran Pancasila menjadi sangat krusial, berfungsi sebagai penyaring, penanda batas dan penegas identitas agar kita maju mengikuti perkembangan zaman namun tidak kehilangan ciri khas dan kepribadian asli diri kita sebagai orang Indonesia.

“Saya tahu kalian anak-anak cerdas, kalian bisa menyerap ilmu baru dengan cepat, kalian mahir menguasai teknologi. Tapi saya berpesan, jadilah cerdas yang pandai memilih dan memilah. Ambilah hal-hal baik, kemajuan, ilmu dan keahlian dari mana saja di dunia ini, seraplah sebaik-baiknya. Namun ingat, jangan pernah buang, tinggalkan atau lupakan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang kita yang sudah terbukti kebaikannya selama berabad-abad. Jadikan Pancasila itu pakaian kebesaran yang senantiasa kalian kenakan, di mana pun berada, apa pun kedudukan dan pekerjaan kalian nanti,” pesannya tegas namun lembut.

Menutup pesan panjang yang sarat nasihat dan harapan tersebut, Sri Wahyuni Ningsi kembali mengajak seluruh pelajar SMK Negeri 02 Bombana untuk menjadikan peringatan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni ini bukan sekadar tanggal merah atau kegiatan kenangan sejarah saja, melainkan titik awal pembangkitan semangat baru. Semangat untuk belajar lebih giat lagi, semangat untuk berbuat lebih baik lagi, semangat menjaga persatuan dan yang paling utama semangat mengamalkan kelima sila tersebut dalam perbuatan nyata sehari-hari, mulai dari hal-hal yang paling sederhana dan dekat dengan kita.

Bagi beliau, keberhasilan mendidik bukan hanya terlihat saat siswa lulus sekolah dengan nilai bagus dan sertifikat keahlian di tangan. Keberhasilan yang sesungguhnya baru terasa dan terlihat nyata kelak, ketika para lulusan ini terjun ke masyarakat, bekerja, berkarya, hidup bermasyarakat, dan terbukti menjadi orang-orang yang jujur, bertanggung jawab, sopan, berguna, cinta tanah air, serta mampu menjaga dan meneruskan kebaikan bagi generasi sesudahnya.

Bupati Butur : Di Balik Penghargaan Kemendagri. Perubahan Besar Cara Pusat Menilai Daerah

“Anak-anakku, kalian adalah harapan daerah Bombana, kalian adalah bagian kecil namun penting dari penerus bangsa Indonesia. Saya ucapkan selamat memperingati Hari Lahir Pancasila tahun 2026. Bawalah selalu nilai mulia ini ke mana pun kalian melangkah. Percayalah, dengan berpegang teguh pada Pancasila, masa depan kalian pasti cerah, pasti terjamin keselamatannya dan pasti membawa kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, daerah tercinta dan negara kita tercinta Indonesia,” pungkas Sri Wahyuni Ningsi mengakhiri pesannya yang menyentuh dan penuh makna mendalam.

Pesan ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen tenaga pendidik di daerah ini, memastikan bahwa dari ruang-ruang kelas SMK Negeri 02 Bombana akan lahir dan tumbuh generasi baru yang tidak hanya unggul secara kompetensi dan keterampilan, namun juga kokoh dan teguh berkarakter, berjiwa Pancasila sejati, siap menjaga dan membangun tanah air tercinta ini ke arah kemajuan yang semakin gemilang.

Reporter : duL