Berita Daerah Kolaka

PT Vale Gandeng Yonif 869 Taawu, Pertanian Organik Jadi Senjata Baru Hadapi Krisis Pangan

IMG 4352
Ketgam : Suasana pelatihan pengolahan ekosistem pertanian organik yang melibatkan 30 prajurit dari kesatuan Yonif 869 Taawu. Foto : PT. Vale

KOLAKA. OKESULTRA.ID – Ketahanan pangan tidak lagi hanya menjadi urusan petani. Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, serta semakin tingginya ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia, upaya membangun kedaulatan pangan kini menjadi agenda lintas sektor. Langkah itu tercermin dari kolaborasi PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa bersama Yonif 869 Taawu yang menggelar pelatihan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSLRB) bagi 30 prajurit TNI.

Program yang dimulai pada 14 Juli 2026 tersebut bukan sekadar pelatihan teknis bercocok tanam. Di balik kegiatan selama lima hari itu tersimpan misi besar, yakni mengubah cara pandang terhadap pertanian sebagai fondasi ketahanan bangsa sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga negara tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui kemampuan menjaga ketersediaan pangan.

Kolaborasi antara dunia usaha dan TNI ini menjadi langkah yang jarang ditemui. Selama ini, TNI lebih dikenal sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan wilayah. Kini, prajurit juga didorong menjadi agen perubahan dalam pengembangan pertanian organik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

PT Vale memandang keterlibatan Yonif 869 Taawu sebagai bagian dari strategi memperluas kolaborasi pembangunan di Kabupaten Kolaka. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi perusahaan dan pemerintah daerah, tetapi juga bagi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

Yang menarik, sebagian besar peserta mengawali pelatihan tanpa pengalaman maupun latar belakang di bidang pertanian. Namun, keterbatasan tersebut justru tidak menjadi hambatan. Semangat belajar yang ditunjukkan para prajurit menjadi modal penting dalam menyerap seluruh materi yang diberikan.

Bullying, Narkoba, dan Kekerasan Mengintai, Bapas Baubau Bergerak Selamatkan Pelajar

Pada hari pertama pelatihan, para peserta diajak membedah persoalan mendasar yang selama ini membelenggu sektor pertanian nasional. Fokus pembahasan bukan pada bagaimana meningkatkan produksi secara instan, melainkan bagaimana memperbaiki kualitas ekosistem tanah yang selama bertahun-tahun mengalami degradasi akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

Konsultan Pertanian Organik dari Aliksa Organik SRI Consultant, Koko Komamin, mengatakan bahwa perubahan terbesar yang harus dilakukan bukan hanya pada teknik bertani, melainkan pada pola pikir para pelaku pertanian.

“Kami mencoba membongkar kebekuan pikiran para prajurit agar beralih ke konsep ekologi tanah. Mereka diajak memahami secara mendalam sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Dengan mengoptimalkan bahan organik di dalam tanah, nutrisi tanaman sebenarnya sudah tersedia secara mandiri tanpa harus terus-menerus mendatangkan input dari luar,” ujar Koko Komamin.

Menurutnya, ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis telah menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas lahan pertanian. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bukan hanya meningkatkan biaya produksi petani, tetapi juga mempercepat kerusakan ekosistem dan menurunkan produktivitas lahan.

Karena itu, pelatihan PSLRB dirancang secara komprehensif. Setelah memahami konsep dasar ekologi tanah, peserta akan mempraktikkan langsung teknik budidaya tanaman organik, pengelolaan bahan organik, hingga menyusun rencana aksi yang dapat diterapkan di lingkungan Yonif 869 Taawu setelah pelatihan selesai.

Di Balik Besarnya Investasi Nikel, PT Vale dan Pemkab Kolaka Diuji Membuktikan Janji untuk Rakyat

Bagi PT Vale, investasi pada sektor pertanian merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun keberlanjutan wilayah operasional. Perusahaan meyakini bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari aktivitas industri, tetapi juga dari kemampuan menciptakan masyarakat yang mandiri dan memiliki ketahanan ekonomi.

Senior Coordinator External Relation PT Vale IGP Pomalaa, Charles Cristian, menjelaskan bahwa kehadiran Yonif 869 Taawu menambah kekuatan kolaborasi yang selama ini dibangun perusahaan bersama pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Ini adalah langkah yang sangat baik di mana PT Vale berperan sebagai motivator bagi teman-teman TNI. Jika selama ini urusan utama mereka identik dengan persenjataan, melalui pelatihan PSLRB ini kita bersama-sama mengalihkan energi untuk memperkuat ketahanan pangan dan kedaulatan pangan bangsa,” kata Charles.

Charles menilai, keterlibatan TNI dalam program pemberdayaan masyarakat menjadi contoh bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pangan, perubahan iklim, dan kebutuhan pembangunan berkelanjutan.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa program ini merupakan investasi jangka panjang. Ilmu yang diperoleh para prajurit diharapkan tidak berhenti selama pelatihan berlangsung, tetapi terus diterapkan di lingkungan kesatuan maupun ketika mereka bertugas di berbagai daerah di Indonesia.

Ancaman DBD Tak Bisa Ditunggu, PT Vale Ajak Warga Tambea Lawan Penyakit dari Rumah

Model kolaborasi seperti ini juga memperlihatkan perubahan paradigma pembangunan perusahaan. Program tanggung jawab sosial kini tidak lagi sebatas bantuan sesaat, melainkan diarahkan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mampu menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Di tengah semakin besarnya tantangan sektor pangan nasional, pelatihan PSLRB yang digagas PT Vale bersama Yonif 869 Taawu menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab petani. Dunia usaha, pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga aparat negara memiliki peran yang sama pentingnya dalam memastikan tanah tetap subur, produksi pangan tetap terjaga, dan generasi mendatang mewarisi lingkungan yang sehat.

Melalui kolaborasi tersebut, PT Vale IGP Pomalaa kembali menegaskan komitmennya sebagai perusahaan yang tidak hanya mengembangkan industri pertambangan secara bertanggung jawab, tetapi juga berinvestasi pada pembangunan manusia dan lingkungan. Ketika prajurit mulai memahami cara menjaga kesuburan tanah sebagaimana mereka menjaga kedaulatan negara, maka ketahanan pangan bukan lagi sekadar slogan, melainkan gerakan nyata menuju masa depan Indonesia yang lebih tangguh.

Reporter : duL