BOMBANA. OKESULTRA.ID – Kebersihan kantor pemerintah hingga ruang publik di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, diuji menjelang perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah Kabupaten Bombana menggelar lomba kebersihan antar-organisasi perangkat daerah (OPD) selama empat hari, 11–14 Agustus 2026, dengan menyasar kantor pemerintahan, fasilitas umum, ruang terbuka hingga lingkungan kecamatan.
Lomba tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial menyambut kemerdekaan. Pemkab Bombana menjadikannya momentum untuk menguji kepedulian aparatur dan masyarakat terhadap kebersihan lingkungan sekaligus mendorong budaya hidup bersih dan sehat.
Penilaian dilakukan setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WITA. Tim juri melibatkan sejumlah unsur, di antaranya Ketua TP PKK Kabupaten Bombana Hj Fatmawati Kasim Marewa, Ketua Bhayangkari Bombana, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana 1431 Bombana, Ketua IAD Adhyaksa Dharmakarini, serta kalangan jurnalis.
Hari pertama, Selasa (11/8/2026), tim juri menyisir sejumlah kantor OPD. Beberapa objek yang dinilai antara lain Dinas PUPR, Dinas Perumahan, BRIDA, BPBD, Satpol PP, Dinas PMPTSP, Pelayanan Publik dan Dinas Kesehatan.
Penilaian berlanjut pada Rabu (12/8/2026). Sekretariat DPRD, Perpustakaan, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, BKPSDM, Bappeda, Dukcapil, Dinas Transmigrasi dan Inspektorat masuk dalam daftar objek penilaian.
Tak berhenti di lingkungan perkantoran, tim juri pada Kamis (13/8/2026) mengalihkan perhatian ke ruang publik yang menjadi tanggung jawab OPD. Pasar Todoha Mappacing, RTH STQ, taman, kawasan pantai, kolam dan sejumlah fasilitas publik lainnya ikut menjadi sasaran penilaian.
Pola penilaian kemudian berubah pada hari terakhir, Jumat (14/8/2026), ketika tim juri mengevaluasi kebersihan tingkat kecamatan.
Namun, pada kategori ini terdapat catatan. Dari total 22 kecamatan di Kabupaten Bombana, hanya 11 kecamatan yang mengirimkan video untuk mengikuti penilaian. Artinya, separuh kecamatan tidak mengirimkan materi penilaian sebagaimana yang dilakukan peserta lainnya.
Penilaian tingkat kecamatan tersebut dilakukan berdasarkan video yang dikirimkan peserta. Tim juri tidak melakukan kunjungan langsung ke kecamatan untuk memverifikasi kondisi lapangan.
Kondisi itu membuat penilaian tingkat kecamatan memiliki mekanisme berbeda dibandingkan penilaian sejumlah OPD dan ruang publik yang dilakukan secara langsung oleh tim juri.
Ketua tim juri, Hj Fatmawati Kasim Marewa, menegaskan lomba kebersihan tidak semata-mata ditujukan untuk mencari pemenang. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan instrumen untuk membangun kebiasaan hidup bersih di tengah masyarakat.
“Jadi lomba ini untuk membiasakan budaya bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Juga meningkatkan kesadaran dan kepedulian warga terhadap kebersihan lingkungan,” kata Hj Fatmawati, Jumat (14/8/2026).
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada momentum perayaan HUT Kemerdekaan. Kesadaran menjaga lingkungan, kata dia, harus tumbuh menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten.
“Diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujarnya.
Senada, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bombana, Siti Arnidar, mengatakan lomba kebersihan merupakan bagian dari Gerakan Berani Bersih Wonuaku. Program tersebut diarahkan untuk mendorong kebersihan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari, bukan sekadar persiapan menghadapi perlombaan.
“Lomba kebersihan ini selain menjadikan budaya bersih sebagai bagian penting kehidupan, juga diharap tumbuh rasa tanggung jawab untuk hidup sehat bersama,” kata Siti Arnidar.
Pemkab Bombana menjadwalkan pengumuman pemenang pada malam puncak HUT ke-81 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2026, di Alun-Alun Kasipute, Bombana. Hasil penilaian akan menjadi bagian dari rangkaian perayaan kemerdekaan di daerah tersebut.
Lomba kebersihan ini bukan kali pertama digelar. Pemkab Bombana menjadikannya agenda rutin yang dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni dalam rangka HUT Kemerdekaan RI dan HUT Kabupaten Bombana.
Di balik semarak perlombaan, tantangan sebenarnya justru terletak setelah pengumuman pemenang. Pemerintah daerah dituntut memastikan budaya bersih tidak hanya muncul ketika juri datang atau kamera mulai merekam, tetapi tetap hidup ketika perlombaan telah berakhir.
Sebab, ukuran keberhasilan lomba kebersihan pada akhirnya bukan hanya siapa yang keluar sebagai juara. Lebih jauh, keberhasilan itu akan terlihat dari seberapa konsisten kantor pemerintah, fasilitas publik dan masyarakat menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, lomba kebersihan HUT ke-81 RI di Bombana menjadi lebih dari sekadar perebutan predikat terbersih. Ia menjadi ujian sederhana namun nyata: apakah semangat gotong royong dan budaya bersih benar-benar mampu bertahan setelah panggung perayaan kemerdekaan ditutup.
Reporter : duL




















