Berita Metro

PT Vale Lawan Hama Tikus di Morowali, Burung Hantu Jadi Senjata Alami

IMG 5061

MOROWALI. OKESULTRA.ID – Hama tikus menjadi ancaman serius bagi produktivitas pertanian warga di tengah tuntutan menjaga ketahanan pangan lokal. Merespons persoalan tersebut, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, Sulawesi Tengah, menginisiasi program Revitalisasi Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT) dengan menggabungkan pendekatan ekologis, teknologi sederhana, dan kembali menghidupkan gotong royong petani.

Program tersebut menjadi bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale. Perusahaan menempatkan pengendalian hama bukan sekadar sebagai upaya menyelamatkan tanaman, tetapi juga sebagai bagian dari penguatan kapasitas petani dan perlindungan sumber penghidupan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Rangkaian kegiatan dimulai melalui Pelatihan Konservasi Burung Hantu dan Pembuatan Rumah Burung Hantu (Rubuha) pada 7–9 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan revitalisasi PHTT pada 11–12 Agustus 2026.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pengendalian tikus tidak efektif jika hanya dilakukan secara sporadis oleh satu petani. Pergerakan hama melintasi batas lahan membuat penanganannya membutuhkan tindakan bersama dan terkoordinasi.

Dalam program itu, petani binaan diperkenalkan pada sejumlah langkah teknis pengendalian hama. Mulai dari sanitasi pematang lahan, penutupan lubang tikus aktif, hingga gropyokan atau perburuan tikus secara massal dilakukan sebagai bagian dari strategi pengendalian terpadu.

Investasi Jadi Kunci Bombana Hadapi Pemangkasan Anggaran, Bupati: Harus Berbuah untuk Rakyat

Tak hanya mengandalkan tenaga manusia, PT Vale juga mendorong pemanfaatan predator alami. Burung hantu lokal Sulawesi, Tyto rosenbergii, dimanfaatkan sebagai agen pengendalian hayati untuk membantu menjaga populasi tikus di kawasan pertanian.

Pemanfaatan predator alami tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia dalam pengendalian hama. Dengan demikian, pengelolaan ekosistem pertanian diharapkan tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek produktivitas lahan.

Puluhan Rumah Burung Hantu yang telah dirakit kemudian dipasang di sejumlah titik strategis lahan pertanian warga. Rubuha itu diharapkan menjadi tempat berkembang dan beraktivitasnya burung hantu sebagai predator alami tikus.

Manager Social Development Program Regional and Growth PT Vale, Lalu Nofa Setiawan Putra, mengatakan pembangunan masyarakat harus bertumpu pada sistem yang kuat sekaligus menjaga keseimbangan dengan lingkungan.

“Pertanian merupakan sumber penghidupan utama di wilayah Morowali. Penguatan kapasitas petani, perlindungan hasil panen, dan pemeliharaan keseimbangan lingkungan menjadi bagian penting dari upaya menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan,” kata Lalu Nofa melalui keterangan tertulis yang diterima TribunPalu.com, Minggu (16/8/2026).

Vale Pacu Ekosistem Industri Hijau di Morowali, Investasi HPAL Tembus US$2 Miliar

Menurut dia, persoalan hama tikus tidak mengenal batas kepemilikan lahan. Karena itu, pola penanganannya pun tidak dapat dibebankan kepada petani secara individual.

“Pengendalian hama tidak bisa dilakukan secara individual. Melalui program ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat desa, sekaligus memperkuatnya dengan pendekatan yang lebih ilmiah dan terukur,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa program PHTT tidak hanya diarahkan pada pemberantasan hama, tetapi juga membangun kembali partisipasi kolektif masyarakat. Petani didorong untuk melihat persoalan pertanian sebagai kepentingan bersama yang membutuhkan koordinasi lintas lahan.

Di sisi lain, efektivitas program tetap membutuhkan pengawasan berkelanjutan. PT Vale menyatakan monitoring berkala akan dilakukan untuk melihat perkembangan pemanfaatan Rubuha dan efektivitas pengendalian tikus di lahan pertanian warga.

Hasil pemantauan tersebut nantinya menjadi dasar untuk melihat apakah pendekatan pengendalian hayati dapat diterapkan secara lebih luas. PT Vale juga membuka peluang replikasi program di wilayah pemberdayaan lainnya apabila hasil pelaksanaannya dinilai efektif.

PT Vale Mulai Perundingan PKB ke-22, Sembilan Wakil Serikat Pekerja Duduk Satu Meja dengan Manajemen

Dengan memadukan sains, kearifan lokal, dan kekuatan gotong royong, program tersebut diarahkan untuk membangun pertanian Morowali yang lebih resilien. Tantangannya kini bukan hanya memastikan tikus dapat dikendalikan, tetapi memastikan model pengendalian tersebut benar-benar mampu meningkatkan produktivitas petani sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang.

Reporter : duL