Berita Daerah Kolaka

Ancaman DBD Tak Bisa Ditunggu, PT Vale Ajak Warga Tambea Lawan Penyakit dari Rumah

IMG 4359
Ketgam : Saat PT Vale saat memberikan edukasi PHBS bagi masyarakat di Desa Tambea, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Foto : Humas PT Vale

KOLAKA. OKESULTRA.ID –  Di tengah pesatnya geliat pembangunan kawasan industri dan proyek strategis nasional di Pomalaa, ancaman kesehatan masyarakat justru menjadi persoalan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menghantui permukiman warga, menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara tentang investasi dan infrastruktur, tetapi juga keselamatan manusia yang hidup di sekitarnya.

Kesadaran itulah yang mendorong PT Vale Indonesia Tbk Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menggencarkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada masyarakat Desa Tambea, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memastikan pembangunan berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

Langkah tersebut bukan sekadar memenuhi kewajiban sosial perusahaan. Di balik kegiatan edukasi itu tersimpan pesan yang lebih kuat, yakni bahwa ancaman penyakit menular tidak akan pernah selesai hanya dengan pengobatan. Pencegahan sejak lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga, merupakan benteng pertahanan yang paling efektif.

Senior Coordinator Community Development PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Charles Cristian, menegaskan bahwa program tersebut merupakan implementasi nyata pilar kesehatan dalam program Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan perusahaan.

“Ini merupakan salah satu pilar kesehatan yang menjadi program andalan kami dalam implementasi ESG PT Vale. Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pola hidup bersih dan sehat adalah investasi jangka panjang bagi keluarga maupun desa,” ujar Charles.

Bullying, Narkoba, dan Kekerasan Mengintai, Bapas Baubau Bergerak Selamatkan Pelajar

Menurutnya, kesehatan memiliki nilai strategis dalam mendukung pembangunan masyarakat. Ketika kepala keluarga atau anggota keluarga yang produktif terserang penyakit, dampaknya tidak hanya dirasakan secara medis, tetapi juga langsung memukul kondisi ekonomi rumah tangga.

“Kalau tulang punggung keluarga sakit, produktivitas menurun, pendapatan ikut terganggu. Karena itu kami berharap masyarakat memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan sehari-hari untuk menjaga lingkungan dari berbagai potensi penyakit, khususnya DBD,” katanya.

Persoalan DBD sendiri bukanlah ancaman yang bisa dianggap sepele. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini terus menjadi tantangan kesehatan di berbagai daerah tropis, termasuk Sulawesi Tenggara. Lingkungan yang kurang bersih, genangan air, serta pengelolaan sampah yang buruk menjadi faktor utama berkembangnya populasi nyamuk penyebab DBD.

Kepala Puskesmas Pomalaa, Armayanti, menilai kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat merupakan langkah penting dalam menekan angka kasus DBD.

“Tujuan utama sosialisasi ini adalah menekan angka kematian akibat DBD. Kuncinya bukan hanya pada pelayanan kesehatan, tetapi bagaimana masyarakat mampu melakukan pencegahan melalui kebersihan lingkungan secara konsisten,” tegas Armayanti.

Di Balik Besarnya Investasi Nikel, PT Vale dan Pemkab Kolaka Diuji Membuktikan Janji untuk Rakyat

Ia menambahkan, upaya pemberantasan sarang nyamuk tidak akan berhasil apabila hanya mengandalkan petugas kesehatan. Kesadaran masyarakat menjadi faktor paling menentukan keberhasilan pengendalian penyakit tersebut.

Realitas di lapangan menunjukkan ancaman itu memang nyata. Kepala Desa Tambea, Muslipang Nawir, mengungkapkan bahwa wilayahnya pernah mengalami kasus DBD yang cukup mengkhawatirkan hingga menyebabkan beberapa warga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Kami sangat berterima kasih kepada PT Vale dan semua pihak yang telah memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut,” ujar Muslipang.

Ia menilai edukasi semacam ini memiliki dampak yang jauh lebih besar dibanding sekadar penyuluhan biasa. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat diharapkan berubah menjadi kebiasaan baru dalam menjaga kebersihan lingkungan, sehingga risiko penyebaran penyakit dapat ditekan secara berkelanjutan.

Muslipang juga menyoroti peran penting kaum ibu dalam menjaga kesehatan keluarga. Menurutnya, ibu rumah tangga merupakan garda terdepan dalam mengelola sampah rumah tangga, menjaga kebersihan tempat penampungan air, hingga memastikan lingkungan sekitar rumah tetap bebas dari sarang nyamuk.

PT Vale Gandeng Yonif 869 Taawu, Pertanian Organik Jadi Senjata Baru Hadapi Krisis Pangan

Apresiasi serupa datang dari Pemerintah Kecamatan Pomalaa. Pemerintah kecamatan menilai keberhasilan memerangi DBD tidak cukup hanya dengan sosialisasi, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Pemerintah kecamatan bahkan mendorong lahirnya gerakan kerja bakti massal secara berkala sebagai tindak lanjut dari kegiatan edukasi tersebut. Pembersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk dinilai menjadi langkah konkret yang mampu memperkuat dampak program, terlebih apabila dilakukan bersama-sama dengan dukungan perusahaan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Pada akhirnya, pembangunan kawasan industri hanya akan memiliki makna apabila mampu menghadirkan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat. Melalui edukasi PHBS ini, PT Vale menunjukkan bahwa keberhasilan investasi tidak semata diukur dari besarnya nilai proyek, tetapi juga dari sejauh mana perusahaan mampu menumbuhkan budaya hidup sehat, memperkuat ketahanan masyarakat terhadap penyakit, dan menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi mendatang. Di tengah ancaman DBD yang masih mengintai, kesadaran kolektif menjadi vaksin sosial paling ampuh untuk melindungi masyarakat Pomalaa.

Reporter : dual