Berita Daerah Kolaka

Polisi Asyik Tidur Saat Warga Menderita. Tamu Asal Bali Protes Ketiadaan Penindakan Balap Liar di Kolaka

IMG 5688

KOLAKA, OKESULTRA.ID — Deru mesin memecah keheningan malam, berulang kali dari tengah malam hingga menjelang subuh. Selama dua malam berturut-turut, aktivitas balap liar di depan Penginapan Rumah Adat Kolaka berlangsung tanpa henti  dan tanpa ada pihak berwenang yang menampakkan wujud penindakan. Keresahan yang lama dipendam warga akhirnya meledak, ketika seorang tamu asal Bali tidak lagi sanggup berdiam diri dan turun langsung ke jalan untuk menegur para pelaku.

Sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari, jalan di depan penginapan itu berubah menjadi lintasan balap tak resmi. Puluhan pemuda terlihat berkendara dengan kecepatan tinggi, lengkap dengan sorak-sorai penonton yang memadati bahu jalan. Suara knalpot yang dimodifikasi membisingkan telinga, berulang-ulang, tanpa ada tanda-tanda penurunan intensitas meski waktu terus bergulir menuju subuh.

Bagi Komang, tamu yang sedang berkunjung dari Bali, kegaduhan itu bukan sekadar gangguan. Ia datang untuk beristirahat dan menikmati suasana daerah. Namun yang didapat justru dua malam tak bisa memejamkan mata karena hiruk-pikuk yang tak kunjung usai. Puncak kesabarannya habis pada Sabtu dini hari, ketika ia akhirnya melangkah keluar dan menegur langsung kelompok pemuda yang sedang beraksi di jalan raya itu.

“Saya sudah dua malam menginap di sini, dan setiap malam selalu sama. Dari pukul dua belas malam sampai subuh suara kendaraan terus menderu tanpa henti. Tidak bisa tidur sama sekali. Saya datang ke sini untuk beristirahat, bukan mendengar kebisingan yang tidak ada ujungnya,” ujar Komang dengan nada bergetar menahan amarah, Minggu (18/10/2026).

Namun yang paling memilukan hatinya bukan sekadar suara bising itu sendiri. Melainkan kenyataan pahit bahwa aktivitas yang jelas-jelas melanggar hukum itu berlangsung di depan mata seakan mendapat izin diam dari penegak hukum setempat. Komang menyaksikan sendiri: kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi, penonton berkerumun di pinggir jalan, dan tak satu pun petugas kepolisian yang terlihat.

Uji Laboratorium Nyatakan Padi Demplot Towuti Aman Dikonsumsi, Musim Tanam Kedua Disiapkan

“Yang paling membuat saya heran dan kecewa adalah polisi di sini seakan asyik-asyik saja, sementara warga sekitar menderita tak bisa tidur tiap malam. Mengapa hal yang jelas-jelas mengganggu ketertiban umum dan membahayakan nyawa ini bisa berlangsung begitu lama tanpa ada yang menindak? Seolah-olah dibiarkan berjalan terus setiap malam,” tegasnya, suaranya meninggi.

Keluhan Komang ternyata hanyalah puncak gunung es. Warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengakui bahwa fenomena ini bukan hal baru. Mereka telah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hidup di tengah kebisingan yang sama. Namun mereka memilih bungkam karena merasa suara mereka tak pernah didengar.

“Kami sudah lama mengalami ini. Sempat sampaikan ke polsek pelabuhan, tapi tidak ada tanggapan, malah asik-asik tidur,” ujarnya.

Fakta bahwa Komang seorang tamu dari luar daerah yang akhirnya harus turun ke jalan menegur para pelaku, justru mempertegas satu hal warga lokal sudah lama kehilangan kepercayaan bahwa laporan mereka akan ditindaklanjuti. Kehadiran tamu yang bersuara lantang justru membuka tabir bahwa ketiadaan penindakan bukan karena tidak tahu, melainkan karena tidak ada langkah yang diambil.

Bayu, pengamat sosial di Kolaka, menilai insiden ini sebagai cermin tajam dari kinerja penegakan hukum di tingkat akar rumput. Ketika warga lokal sudah menyerah dan hanya tamu dari luar yang berani bersuara, ada yang sangat keliru dalam sistem pengawasan ketertiban umum di daerah ini.

Dukung Luas Tambah Tanam, Pemkab Bombana Serahkan Ratusan Alsintan ke Petani

“Ini bukan sekadar soal balap liar. Ini soal kapan kepolisian hadir di tengah masyarakat? Haruskah ada tamu dari luar daerah yang protes dulu baru ada langkah? Atau haruskah ada kecelakaan berdarah dulu baru ada patroli? Kehadiran negara dalam bentuk penegakan hukum tidak boleh menunggu keributan terjadi,” tegas Bayu.

Warga juga menegaskan: mereka tidak menuntut penindakan sesaat yang hilang sehari setelahnya. Yang mereka butuhkan adalah kepastian berkelanjutan bahwa hukum berlaku sama — malam, pagi, siang, hari libur maupun hari kerja. Bahwa jalan umum bukan arena balap milik siapa pun.

“Kami tidak ingin selalu harus berdemo atau membuat keributan dulu baru ditindak. Hukum harus berjalan kapan pun, di mana pun, tanpa harus menunggu ada yang mengeluh. Itulah esensi kehadiran negara di tengah masyarakat,” ujar warga lainnya.

Komang menyampaikan bahwa ia tetap mencintai keindahan alam dan keramahan masyarakat Kolaka. Namun keindahan itu tercoreng oleh ketidakpastian rasa aman di malam hari. Baginya, ketenangan beristirahat adalah hak asasi setiap orang bukan hak istimewa yang harus diperjuangkan dengan berseru di tengah jalan raya.

“Saya akan pulang ke Bali sebentar siang. Tapi warga di sini harus menanggung ini setiap malam. Pikirkan mereka. Mereka tidak bisa pulang ke tempat lain. Mereka tinggal di sini. Mereka juga berhak tidur nyenyak di malam hari tanpa harus mendengar deru kendaraan yang membahayakan nyawa,” pungkas Komang.

Pasar Tadoha Mapaccing Terbakar, Burhanuddin Perintahkan Revitalisasi Berkonsep Modern

Reporter : duL