Berita Metro News

Anton Timbang Gelar Syukuran Mangara Banua Dirangkaikan HUT-59 Kastor

KENDARI, OKESULTRA.ID – Tradisi Mangara Banua adalah satu di antara banyaknya budaya masyarakat suku Toraja, baik masyarakat di Sulawesi Selatan maupun yang ada di daerah lain, Upacara adat ini masih sangat kental dilestarikan hingga sekarang.

Mangrara Banua adalah upacara syukuran kebiasaan masyarakat Toraja setelah menyelesaikan pembuatan rumah adat Toraja (tongkonan). Dalam acara ini biasanya digelar oleh satu rumpun atau silsilah keluarga yang digelar dengan meriah.

Ada keunikan dan keistimewaan di balik tradisi Mangrara Banua ini. Setiap kali digelar, semua keluarga dari tongkonan bersukacita. Dapat diekspresikan dengan berbagai macam bentuk, pernak pernik yang menghiasi tongkonan, kostum yang digunakan tamu, tari-tarian yang dipersembahkan, hingga hewan yang disembelih.

970BB0FA 9C8A 4393 816A 9641E7D1DBDD

Seperti yang di lakukan oleh Kasiturunna Sang Torayan (Kastor) Kendari yang menggelar kegiatan HUT Kasro yang ke 59 tahun juga di rangkaikan dengan Tradisi Mangara Banua di plataran rumah Ketua Kadin Sulawesi Tenggara, Anton Timbang di Jalan Cempaka Putih, Kelurahan Wua-Wua, Kecamatan Wua – Wua, Sabtu (29/04/2023).

Peradiprof Sultra Bentuk Tiga DPC, Perkuat Akses Bantuan Hukum di Daerah

Bagi masyarakat Toraja, adat syukuran Mangrara Banua menjadi sebuah pesta yang besar. Sehingga, tak jarang penyelenggara menggunakan biaya yang sangat besar pula untuk melaksanakan kegiatan ini.

Tradisi ini sudah ada sejak dahulu, namun sudah berbeda. Tradisi Mangrara Banua zaman dahulu berlangsung selama setahun, sedangkan saat ini hanya berlangsung selama 3 hari dan paling lama sebulan.

Kepada awak media, Anton Timbang mengungkapkan rasa bangga dan terharu atas penyelesaian rumah adat Tongkonan Toraja. Dimana, kata Anton, memiliki tongkonan sbesar itu adalah impian sejak dahulu

970BB0FA 9C8A 4393 816A 9641E7D1DBDD

“Jadi ini hanya betul – betul kebanggaan atau rasa syukur yang luar biasa sehingga kami bisa membangun rumah adat ini. Keberadaan rumah adat Tongkonan di lingkungan keluarga kami merupakan angan – angan saya sejak dahulu, dan saat ini Tuhan mengabulkan harapan ini, ” ujar Anton

Divkum Polri Perkuat Pemahaman KUHP dan KUHAP di Polda Sultra, Dorong Profesionalisme Personel

Lebih lanjut, dalam sambuatanya, Anton Timbang menjelaskan filosofi rumah adat Tongkonan yang menggambarkan seluk beluk kejadian alam semesta dan pranata – pranata yang mengatur kehidupan masyarakat Toraja

“Rumah Tongkonan adalah simbol martabat dan peradaban masyarakat Toraja. Dalam oerkembanganya rumah adat Tongkonan memiliki fungsi sebagai tempat upacara religireligi, lumbung pangan dan kegiatan sosial kemasyarakatan, ” Jelasnya

Lebih jauh, Ketua Kadin Sultra itu juga menuturkan bahwa keberadaan tongkonan tersebut dapat dimaknai dengan simbol keberagaman dalam kebersamaan masyarakat Toraja

“Rumah ini akan selalu kami ingat dan mengakrabkan kami dari nilai – nilai adat yang sangat humanis, “pungkasnya

Reporter : Siswanto Azis

Driver Online Sultra Desak Kepastian Tarif dan Transparansi, Ancam Aksi Lumpuhkan Jalan di Kendari