Berita Metro News

Vale Indonesia Tegaskan Kepemimpinan Berkelanjutan, Bisnis Tak Cukup Hanya Mengejar Profit

IMG 5591

MAKASSAR. OKESULTRA.ID –  Kepemimpinan perusahaan tak lagi cukup diukur dari pertumbuhan bisnis dan besarnya keuntungan. Di tengah perubahan dunia usaha dan meningkatnya tuntutan terhadap tanggung jawab sosial serta lingkungan, perusahaan dituntut mampu membangun sumber daya manusia yang tangguh, menciptakan ruang kerja yang inklusif, dan memastikan pertumbuhan bisnis memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan tersebut mengemuka dalam Makassar Leadership Summit 2026 yang digelar Perkumpulan Manajemen Sumberdaya Manusia (PMSM) Indonesia, APINDO Sulawesi Selatan, dan Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) di Makassar, Kamis (8/10/2026).

Chief Human Capital PT Vale Indonesia Tbk, Heriyanto Agung Putra, menjadi salah satu narasumber dalam panel diskusi bertajuk Inclusive & Sustainable Leadership: People, Planet and Long-Term Values. Forum tersebut membahas tantangan kepemimpinan dalam mengelola keberagaman, menghadapi perubahan, dan menjaga keberlanjutan organisasi.

Heriyanto menilai pemimpin masa kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama dalam mengelola sumber daya manusia di tengah perubahan cepat dan ketidakpastian lingkungan bisnis.

“Pemimpin saat ini menghadapi berbagai tantangan dalam mengelola keberagaman di tengah perubahan yang cepat dan ketidakpastian. Organisasi harus mampu membangun sumber daya manusia yang tangguh sekaligus memiliki ‘agility’ atau kemampuan beradaptasi,” kata Heriyanto.

Vale Indonesia Buka Jalan Kedua bagi Warga Kolaka, Ijazah Paket C Jadi Modal Menembus Dunia Kerja

Menurut dia, kemampuan beradaptasi harus diikuti dengan pembukaan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk berkembang. Latar belakang, usia, maupun kondisi seseorang tidak semestinya menjadi penghalang untuk memperoleh kesempatan berkontribusi dalam organisasi.

“Siapa pun bisa maju, sepanjang dia punya keinginan, energi, dan ‘passion’ untuk bisa mencapai itu,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberagaman, kesetaraan, dan inklusivitas merupakan unsur penting dalam membangun organisasi yang mampu bertahan menghadapi dinamika bisnis. Kepemimpinan yang efektif, menurut dia, harus mampu menciptakan lingkungan kerja yang memberi ruang bagi semua orang untuk berkembang.

Di PT Vale Indonesia, prinsip tersebut diterapkan melalui nilai utama perusahaan yang dikenal dengan CARES, yakni Compassion, Accountability, Resilience, Excellence, dan Sustainability. Kelima nilai tersebut menjadi landasan budaya kerja dan pendekatan perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnis secara bertanggung jawab.

“Keberagaman, kesetaraan, dan inklusivitas menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan bagi seorang pemimpin karena setiap orang memiliki latar belakang serta kondisi yang berbeda. Karena itu, kepemimpinan masa kini harus mampu menciptakan ruang yang memberikan kesempatan kepada semua orang untuk maju,” jelas Heriyanto.

Gubernur ASR Serukan Tata Kelola Bersih di Hadapan Zulkifli Hasan dan Kader PAN se-Sultra

Ia mengatakan, CARES tidak hanya menjadi pedoman dalam membangun budaya organisasi, tetapi juga menjadi landasan bagi para pemimpin perusahaan untuk menyeimbangkan kepentingan bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Sebagai nilai-nilai utama, CARES juga menjadi landasan kepemimpinan di Vale Indonesia, sehingga setiap pemimpin dapat memastikan bagaimana pertumbuhan bisnis sejalan dengan memperhatikan dampak terhadap keberlanjutan, utamanya lingkungan, ekonomi, dan sosial,” katanya.

Dalam konteks operasional pertambangan, Heriyanto turut menyoroti pentingnya upaya mengurangi dampak lingkungan, termasuk meminimalkan penggunaan karbon dan bahan bakar berbasis batu bara dalam proses produksi.

Ia juga menjelaskan prinsip People, Planet and Profit yang menjadi pendekatan perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara pengelolaan sumber daya manusia, tanggung jawab terhadap lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi.

Prinsip tersebut menempatkan keberhasilan bisnis dalam kerangka yang lebih luas. Perusahaan tidak hanya dituntut menghasilkan keuntungan, tetapi juga perlu memperhatikan dampak operasionalnya terhadap masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Jaga Stabilitas Harga & Daya Beli: Gubernur Sultra Siapkan Cadangan Pangan Strategis Hingga 1.000 Ton

Pandangan serupa disampaikan Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, HM Jusuf Kalla, yang memberikan pidato kunci melalui rekaman video dari Amerika Serikat dalam forum tersebut.

Jusuf Kalla mengangkat empat nilai kepemimpinan dalam tradisi Bugis-Makassar, yakni macca yang berarti cerdas, warani atau berani mengambil keputusan, gettengyang bermakna teguh dan tegas, serta malempu yang berarti jujur.

Keempat nilai itu, menurut pesan yang disampaikannya, menjadi fondasi bagi pemimpin untuk mengambil keputusan secara tepat sekaligus menjaga integritas dalam menjalankan tanggung jawab.

Jusuf Kalla juga mengingatkan bahwa keberhasilan perusahaan tidak seharusnya hanya dilihat dari keuntungan finansial. Kehadiran perusahaan perlu memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

“Kepemimpinan itu perlu memberi manfaat lebih luas, tidak hanya profit, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan, tumbuh bersama masyarakat, memenuhi prinsip Environment, Social, Governance- ESG,” ungkap Jusuf Kalla.

Kesetaraan Perempuan dan Regenerasi Kepemimpinan

Selain keberlanjutan, forum tersebut turut membahas tantangan membangun kesetaraan di tempat kerja dan memperkuat hubungan antargenerasi dalam organisasi.

Heriyanto menyebut peningkatan persentase karyawan perempuan serta keterlibatan generasi muda, termasuk Generasi Z, sebagai sejumlah indikator yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan keberagaman di lingkungan kerja.

“Untuk bisa mewujudkan kesetaraan, terdapat beberapa indikator, seperti penambahan persentase karyawan perempuan yang mengisi lingkungan kerja dan persentase anak muda atau Generasi Z yang mulai mengisi peran di perusahaan,” jelasnya.

Menurut Heriyanto, keberagaman tenaga kerja dapat menjadi salah satu kekuatan organisasi ketika didukung kebijakan yang tepat dan kesempatan berkembang yang setara. Perusahaan perlu memastikan bahwa perbedaan latar belakang dan generasi tidak menjadi sumber hambatan dalam mencapai tujuan bersama.

Meski demikian, peningkatan representasi perempuan dan generasi muda perlu diikuti langkah konkret untuk menjamin akses terhadap pengembangan kompetensi, kesempatan promosi, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Dengan begitu, inklusivitas tidak berhenti sebagai slogan, tetapi tercermin dalam praktik pengelolaan sumber daya manusia.

Pembahasan mengenai kepemimpinan berkelanjutan menjadi relevan bagi industri pertambangan, yang memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian sekaligus menghadapi tuntutan pengelolaan lingkungan dan hubungan sosial yang bertanggung jawab.

PT Vale Indonesia Tbk merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1968. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari MIND ID, bersama Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining, serta tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Selain menjalankan operasi pertambangan dan pengolahan nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan, Vale Indonesia mengembangkan proyek-proyek pertumbuhan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara untuk mendukung hilirisasi serta penguatan rantai nilai nikel nasional.

Perusahaan menyatakan komitmennya untuk mengintegrasikan aspek keselamatan, lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam kegiatan operasional serta pengembangan bisnis.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak industri ekstraktif, komitmen tersebut menempatkan keberlanjutan sebagai salah satu aspek yang perlu terus dibuktikan melalui pelaksanaan kebijakan, pengelolaan dampak lingkungan, serta kontribusi nyata terhadap masyarakat di wilayah operasional.

Makassar Leadership Summit 2026 pun menjadi ruang bagi para pemimpin dunia usaha untuk membahas bagaimana nilai kepemimpinan diterjemahkan ke dalam praktik organisasi. Tantangannya bukan sekadar merumuskan prinsip, melainkan memastikan nilai-nilai tersebut hadir dalam keputusan bisnis sehari-hari.

Pada akhirnya, kepemimpinan berkelanjutan menuntut keseimbangan antara pencapaian ekonomi, pengembangan manusia, dan tanggung jawab lingkungan. Bagi industri pertambangan, ukuran keberhasilan jangka panjang tidak hanya terletak pada hasil produksi dan keuntungan, tetapi juga pada kemampuan membangun kepercayaan serta menciptakan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Reporter : duL