Penulis
Dr. Hijriani, S.H., M.H
Setiap Ramadhan datang, kita selalu berbicara tentang target. Target khatam Al-Qur’an, target sedekah, target tarawih penuh, target menahan amarah. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi ada satu hal yang sering luput: apakah kita sudah selesai dengan diri sendiri? Ramadhan, bagi saya, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang sunyi untuk berdamai.
Dengan kegagalan. Dengan kesalahan. Dengan rasa iri yang mungkin masih tersisa. Dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al- Baqarah: 183).
Ayat itu sederhana, tetapi arahannya jelas: tujuan puasa adalah takwa. Dan takwa bukan sekadar ritual yang tampak, melainkan kesadaran batin. Kesadaran bahwa kita diawasi, bahwa kita ini hamba, bukan hakim atas hidup orang lain.
Ramadhan seharusnya melatih kita untuk tidak merasa lebih suci. Karena sering kali, yang membuat ibadah kehilangan makna bukan kurangnya amalan, melainkan hadirnya kesombongan yang halus. Merasa lebih rajin. Lebih taat. Lebih pantas disebut baik.
Padahal Rasulullah ﷺ sudah mengingatkan dengan sangat tegas:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).
Kesombongan itu tidak selalu berbentuk ucapan keras. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: memandang rendah orang lain, mengukur manusia dari materi dan status sosialnya, atau merasa paling benar. dalam setiap perdebatan. Ramadhan justru datang untuk membongkar itu semua.
Ia mengajarkan bahwa yang membuat kita mulia bukan harta, bukan jabatan, bukan gelar.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13). Standarnya bukan sosial, tapi spiritual.
Maka, memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih berarti berhenti sibuk mengukur orang lain. Berhenti mencela. Berhenti menghibah. Berhenti membuka aib yang bukan urusan kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kalimat ini sederhana, tapi berat dipraktikkan. Di zaman ketika opini begitu mudah dilontarkan dan aib begitu cepat disebarkan, diam kadang lebih mulia daripada merasa paling benar.
Ramadhan juga mengajarkan untuk tidak mengambil hak orang lain, sekecil apa pun. Karena ibadah yang tinggi tidak akan menutup kezaliman. Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat tentang siapa orang yang bangkrut. Beliau menjelaskan bahwa orang bangkrut adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi pernah mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, hingga pahala mereka habis untuk membayar kezaliman itu (HR. Muslim).
Hadits ini seperti alarm. Bahwa kualitas Ramadhan kita bukan hanya soal berapa banyak rakaat, tetapi seberapa bersih relasi kita dengan sesama manusia.
Belajar selesai dengan diri sendiri juga berarti berhenti membandingkan perjalanan hidup kita dengan orang lain. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada yang diuji dengan kelapangan.
Keduanya sama-sama ujian. Tugas kita bukan mempertanyakan takdir orang lain, tetapi memperbaiki langkah kita sendiri.
Ramadhan adalah ladang introspeksi. Bukan panggung kompetisi. Di bulan ini, mungkin yang perlu kita latih bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan ego.
Bukan hanya memperbanyak ibadah, tetapi memperbaiki niat. Bukan hanya mengejar pahala, tetapi juga belajar pasrah dan tawakkal.
Allah berfirman, “Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. At-Talaq: 3).
Tawakkal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Ia adalah ketenangan setelah ikhtiar maksimal. Ia adalah percaya bahwa apa pun yang terjadi rezeki, kehilangan, kegagalan—tidak pernah lepas dari pengetahuan dan kebijaksanaan-Nya.
Mungkin inilah makna terdalam menyambut Ramadhan: membersihkan hati sebelum memperbanyak amal. Karena amal tanpa hati yang bersih bisa berubah menjadi kebanggaan. Dan kebanggaan bisa menghapus nilai yang kita kira sudah kita kumpulkan.
Ramadhan bukan tentang terlihat baik. Ia tentang menjadi lebih baik—diam-diam, pelan- pelan, tanpa perlu merasa lebih suci dari siapa pun.
Dan mungkin, jika kita bisa melewati satu bulan ini dengan lebih jujur pada diri sendiri, lebih lembut pada orang lain, dan lebih pasrah kepada Allah, maka kita tidak hanya berpuasa. Kita benar-benar belajar.
Selamat menjalani ibadah puasa Ramadhan 1447 H dengan sebaik-baik diri.(•••)





