LUWU TIMUR, OKESULTRA.ID – Ratusan pelajar di Desa Tokalimbo, Loeha Raya, harus menghentikan kegiatan Sosialisasi Berkendara Aman dan Pelatihan Pertolongan Pertama setelah sekelompok massa mendatangi lokasi dan membubarkan acara secara paksa. Kegiatan dalam rangka Bulan K3 Nasional yang digelar PT Vale Indonesia itu berubah menjadi mencekam, menyisakan ketakutan dan trauma bagi para siswa. Tepatnya, Kamis (12/02/2026).
Sebelum kegiatan tersebut dihentikan oleh sekelompok massa, suasana di lokasi kegiatan masih terasa hangat dan penuh semangat. Siswa berseragam Pramuka dan rompi Palang Merah Remaja tampak hilir mudik memasuki ruangan. Canda tawa terdengar, sebagian bercerita tentang praktik pertolongan pertama yang akan mereka ikuti hari itu.
Manager Health Safety Environment and Risk (HSER) Sorowako Growth PT Vale Indonesia (PT Vale), Murianti, membuka kegiatan dengan penuh semangat. Ia menyapa para siswa, menegaskan pentingnya keselamatan sebagai budaya yang harus ditanamkan sejak dini.
“Kehadiran kami di sini untuk mengedukasi anak-anak kita di Loeha Raya agar adik-adik bisa memahami pentingnya memperhatikan keselamatan dalam berkendara juga cara pertolongan pertama pada kecelakaan. Tahun lalu ada lebih dari 25 kecelakaan. Kita mau hal itu tidak terjadi lagi,” ujar Muri.

Materi safety riding berlangsung lancar. Para siswa menyimak dengan serius, beberapa mencatat, lainnya sesekali mengangguk. Namun, materi kedua—Pertolongan Pertama—menjadi yang paling dinanti. Sejak awal, panitia telah memberi bocoran akan ada praktik langsung Teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan patah tulang, luka dan pendarahan, hingga teknik menangani korban pingsan.
Manekin dan peralatan balut luka yang tersusun rapi menjadi pusat perhatian. Harapan memenuhi ruangan.
Tiba-tiba Ricuh
Namun suasana berubah drastis ketika sekelompok orang yang mengatasnamakan Aliansi Petani Loeha Raya (APL) memasuki ruangan. Mereka berteriak meminta kegiatan dibubarkan. Mikrofon yang sedang dipegang pemateri direbut. Para siswa yang semula fokus mendengarkan materi mendadak terdiam.
Wajah-wajah penuh semangat itu seketika muram. Beberapa terlihat kebingungan, sebagian lainnya menunduk.
Situasi semakin tegang ketika terdengar ujaran keras yang dilontarkan kepada penyelenggara kegiatan.

“Kau komunis! PKI! Kehadiranmu mengganggu masyarakat karena mau melakukan provokasi,” hardik salah seorang perwakilan kelompok tersebut.
Seorang pria berbaju hijau dan bertopi hitam bahkan melontarkan pernyataan bernada ancaman di hadapan para pelajar. “Siapa kepala sekolahnya ini? Adik-adik harus tahu PT Vale merusak tanah orang tuamu. Saya tidak mau bertanggung jawab kalau ada kejadian,” ucapnya lantang.
Ucapan-ucapan tersebut membuat sejumlah siswa ketakutan. Beberapa bahkan menangis. Ruang belajar yang semula menjadi tempat berbagi ilmu, berubah menjadi ajang demonstrasi.
Manekinw yang Jadi Saksi Bisu
Di tengah kekacauan, tim PT Vale berupaya menenangkan massa dan menjelaskan bahwa kegiatan tersebut murni untuk edukasi keselamatan. Namun teriakan “Bubarkan kegiatan!” terus menggema.
Siswa-siswi akhirnya diminta berdiri dan meninggalkan ruangan. Manekin yang terbaring di depan tetap diam—tak bergerak tanpa sentuhan manusia. Seolah menjadi saksi bisu terhentinya proses belajar hari itu.
Begitu pula para pelajar. Mereka sebenarnya tak ingin beranjak. Namun situasi memaksa mereka keluar. Harapan untuk mempraktikkan RJP dan teknik pertolongan pertama pupus sebelum sempat dimulai.
Traumaw dan Rasa Takut
Seorang peserta yang enggan disebutkan namanya mengaku kaget dan trauma atas kejadian tersebut.
“Saya takut, tiba-tiba masuk berteriak padahal kami hanya mau ikut sosialisasi safety riding. Kami kasihan sama PT Vale karena kegiatannya dihentikan dan disuruh pulang,” tuturnya lirih.
Ia mengaku sepulang dari lokasi, dirinya dan beberapa teman kembali ke sekolah dalam keadaan menangis. Rasa takut masih membekas.
“Orangtua tidak melarang ikut kegiatan PT Vale, malah didukung. Setelah kegiatan berpapasan dengan kelompok orang yang sudah buat kericuhan, makin takut karena diliat-liati sama temannya,” kenangnya.

Peserta lain tetap menyampaikan apresiasi atas ilmu yang sempat diberikan.
“Saya sangat senang bisa ikut, namun karena ada kejadian sehingga semua materi tidak bisa kami ikuti. Saya minta maaf atas kejadian kemarin,” ungkapnya.
Pendidikan dan Keselamatan yang Terhenti
Peristiwa ini meninggalkan pertanyaan besar tentang ruang aman bagi anak-anak untuk belajar. Di tengah upaya menekan angka kecelakaan dan meningkatkan kesadaran keselamatan, kegiatan edukatif justru terhenti oleh konflik yang tidak melibatkan para pelajar.
Bagi siswa-siswi Tokalimbo, hari itu bukan sekadar sosialisasi yang batal. Ia menjadi pengalaman yang membekas—tentang bagaimana ruang belajar bisa berubah seketika, dan bagaimana semangat menimba ilmu dapat terhenti sebelum waktunya.
Manekin itu mungkin hanya benda mati. Namun hari itu, ia seperti merepresentasikan para pelajar yang terdiam—tak bisa bersuara, tak bisa memilih, hanya menyaksikan ruang belajarnya dibubarkan. (Adv)
Reporter : duL





